Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #13

Lelaki dari Kampung Seberang

BAB 13

Lelaki dari Kampung Seberang

Namanya pertama kali kudengar bukan dari mulutnya sendiri, melainkan dari bisik ibu-ibu di dapur dan percakapan pelan orang-orang tua di sudut rumah. Lelaki dari kampung seberang, kata mereka. Bukan pemuda biasa. Ia disebut-sebut sebagai orang berpendidikan, lama merantau, dan pulang membawa cara bicara yang lebih tenang dari kebanyakan lelaki kampung. Yang membuat namanya cepat menyebar bukan hanya dirinya, tetapi keluarganya. Orang tuanya dikenal sebagai keluarga toke (orang berada, pemilik ladang dan usaha yang cukup besar). Ayahnya seorang ustaz, dihormati karena ilmu dan akhlaknya. Keluarga besarnya terkenal baik, bermoral, dan terpandang di kabupaten itu. Nama marganya sering disebut dengan nada hormat, jarang dengan bisik-bisik miring.

Bagi kampung seperti kami, nama keluarga bisa lebih berat dari wajah seseorang. Aku mendengarnya sambil mengayam tikar. Jari-jariku tetap bergerak, tetapi telingaku menangkap setiap kata. Ada rasa kecil yang tumbuh di dadaku bukan kagum, melainkan kesadaran bahwa jarak antara hidupku dan hidupnya begitu nyata. Ia datang pada suatu sore, bersama rombongan keluarganya. Rumah kami yang dindingnya ditempeli koran itu terasa semakin sempit hari itu. Ibu membersihkan rumah sejak pagi, menyapu berulang kali meski lantainya tetap tanah. Ayah duduk lebih diam dari biasanya, wajahnya kaku, seolah menimbang beratnya peristiwa yang sedang datang.

Aku mengintip dari balik pintu.

Lelaki itu berdiri dengan sikap tenang. Pakaiannya sederhana, tetapi rapi. Cara bicaranya tertata, tidak tergesa, tidak meninggi. Aku bisa melihat bahwa ia terbiasa hidup di luar kampung di tempat orang berbicara dengan hati-hati dan memikirkan masa depan dengan cara yang berbeda.

Ia tidak memandangku lama. Ketika pandangan kami sempat bertemu, ia menunduk lebih dulu. Ada sopan yang terasa asing bagiku. Aku tidak merasakan debar seperti dalam cerita-cerita. Yang kurasakan justru campuran antara gentar dan tidak percaya. Bagaimana mungkin seseorang dari keluarga terpandang, berpendidikan, dan cukup berada itu datang ke rumahku rumah yang hampir roboh, dengan kehidupan yang penuh kekurangan?

Aku bertanya pada diriku sendiri,

Lihat selengkapnya