BAB 14
Cinta yang Tak Pernah Mudah bagi Perempuan Kampung
Sejak hari lamaran itu, hidupku tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Waktu terasa lebih cepat, tetapi langkahku justru semakin hati-hati. Setiap hari orang-orang memandangku dengan cara yang berbeda bukan lagi sekadar anak gadis miskin yang mengayam tikar, melainkan calon istri dari keluarga terpandang.
Aku merasa tumbuh… sekaligus mengecil.
Bisik-bisik kampung tidak berhenti. Ada yang memujiku beruntung, ada pula yang menatap dengan sorot mata penuh tanya.
“Jangan sampai kau nanti lupa diri.”
“Orang miskin kalau masuk rumah orang berada, harus pandai-pandai membawa diri.”
Kata-kata itu seperti bayangan yang mengikutiku ke mana pun aku pergi.