BAB 15
Tangisan Tanpa Gondang
Keputusan itu akhirnya kuambil tanpa perayaan di dalam hati. Tidak ada letupan bahagia, tidak pula penolakan yang keras. Yang ada hanya kesiapan yang tumbuh pelan kesiapan untuk menerima hidup apa adanya, tanpa janji-janji besar. Aku melangkah ke arah pernikahan bukan dengan keyakinan yang utuh, melainkan dengan kejujuran yang sederhana: bahwa aku dan dia sama-sama tidak membawa dunia di tangan kami. Dan mungkin, dari situlah segalanya bermula dari pertemuan dua orang yang tidak ingin berpura-pura kuat di hadapan hidup. Orang kampung membayangkan pernikahanku akan besar. Mereka membayangkan gondang yang bergema berhari-hari, ulos berlapis-lapis, dan pesta adat yang meriah. Nama keluarga calon suamiku terlalu besar untuk dibayangkan secara sederhana.
Tetapi kenyataan berjalan dengan cara yang jauh lebih sunyi.
Aku baru benar-benar tahu, setelah lamaran itu semakin dekat, bahwa keluarga besar suamiku memang pernah kaya sangat kaya namun itu masa lalu. Usaha mereka telah lama jatuh. Harta terjual satu per satu. Rumah besar tinggal cerita. Yang tersisa hanyalah nama baik dan akhlak yang dijaga.
Calon suamiku pernah mengenyam bangku kuliah. Ia hampir menyelesaikan S1-nya. Namun di zaman itu, kuliah adalah kemewahan. Biayanya mahal, jarang orang kampung bisa mencapainya. Ketika keluarganya bangkrut, pendidikannya terhenti begitu saja. Ia pulang dari rantau bukan membawa gelar, melainkan kenyataan.
Dan aku yang sejak kecil sudah terbiasa hidup dalam kekurangan Tidak terkejut. Yang mengejutkanku justru reaksi orang-orang kampung.
Bisik-bisik berubah arah.
“Katanya orang kaya.”
“Kenapa tak ada pesta?”
Aku mendengar semuanya, tetapi aku diam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa kecil karena miskin. Aku justru merasa lega, karena ternyata aku tidak menikah dengan dunia yang terlalu jauh dariku.
Hari pernikahanku tiba tanpa gondang.
Tanpa pesta adat besar.
Tanpa keramaian yang dibayangkan orang.