Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #16

Sunyi yang Retak Perlahan

BAB 16

Sunyi yang Retak Perlahan

Pernikahan itu telah sah, doa telah diucapkan, dan aku resmi menjadi istri. Namun setelah semua orang pulang dan rumah kembali sunyi, barulah hidup memperlihatkan wajah aslinya. Tidak ada lagi adat yang melindungi, tidak ada lagi pesta kecil yang mengalihkan perhatian. Yang tersisa hanyalah dua orang dewasa di dalam satu rumah, membawa kebiasaan, luka, dan cara bertahan masing-masing. Dan di sanalah aku mulai mengenal pernikahan bukan sebagai janji, melainkan sebagai kenyataan yang harus dijalani hari demi hari. Setelah aku benar-benar menjadi istri, barulah aku mengenal suamiku dengan cara yang tidak pernah bisa diajarkan oleh lamaran, adat, atau nama besar keluarga.

Ia adalah lelaki yang pendiam.

Tidak kasar.

Tidak ribut.

Tidak pernah mengeluh.

Namun diamnya panjang, dan jaraknya terasa.

Aku baru tahu, ketenangan yang dulu kukira kedewasaan ternyata menyimpan sisi lain. Ia suka minum tuak (Minuman keras dari pohon aren yang difermentasi). Tidak setiap hari, tidak pula sampai membuat keributan, tetapi cukup sering hingga aku tahu ia memilih lari ke luar rumah daripada tinggal dan berbagi sunyi bersamaku.

Ayahnya memang seorang ustadz.

Keluarganya dikenal bermoral dan baik.

Namun aku belajar satu hal pahit “kesalehan tidak selalu menurun bersama darah.” Kepribadian tidak diwariskan seperti nama keluarga.

Lihat selengkapnya