BAB 17
Enam Bulan yang Sunyi
Sunyi yang retak perlahan itu mengajarkanku satu hal penting bahwa rumah tangga bukan selalu tentang hangatnya cinta atau kata-kata manis. Kadang, rumah tangga adalah tentang bertahan di tengah diam, tentang menahan luka yang tak terlihat, dan tentang belajar menemukan kekuatan di tempat yang paling sunyi. Dan aku menyadari, meski aku sudah mulai menguatkan diriku sendiri, perjalanan itu baru permulaan. Hari-hari yang akan datang tidak hanya akan menguji kesabaranku, tetapi juga ketangguhan hatiku dan aku belum tahu bahwa ujian itu akan datang dalam bentuk yang lebih sunyi lagi.
Setelah menikah, hidupku tidak serta-merta berubah menjadi cerita yang indah. Tidak ada tangis bayi yang menunggu di ujung doa, tidak ada kabar yang bisa kubagikan dengan suara bergetar bahagia. Hari-hari berjalan biasa saja terlalu biasa dan di sanalah luka itu mulai tumbuh perlahan.
Enam bulan.
Hanya enam bulan aku belum dikaruniai anak.
Namun bagi orang-orang di kampung, waktu itu cukup untuk menjadikanku bahan cerita.
Bisik-bisik mulai terdengar. Awalnya samar, lalu semakin jelas. Katanya aku mandul. Katanya aku tidak akan punya anak karena dalam keluargaku sendiri kami hanya bersaudara empat orang. Seolah garis keturunan bisa ditentukan oleh jumlah saudara, seolah rahimku sudah diputuskan gagal bahkan sebelum Tuhan memberi jawabannya.
Aku tersenyum di luar, tetapi di dalam hatiku retak.
Setiap kali mendengar kabar itu, dadaku terasa sesak. Aku menahan air mata, berusaha kuat, meski aku sendiri belum benar-benar siap menjadi seorang ibu. Di situlah kebingunganku aku sangat ingin diberi kesempatan, tetapi aku juga takut takut tidak mampu, takut belum cukup pantas, takut mengecewakan.
Namun setiap malam, aku tetap berdoa.
Aku menundukkan kepala, memohon pada Tuhan dengan suara yang gemetar: “Jika Engkau berkenan, beri aku waktu. Jika Engkau belum memberi, kuatkan aku untuk menerima.”