Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #18

Aku Melahirkan Harapan

BAGIAN IV

HARAPAN DAN KASIH SAYANG

BAB 18

Aku Melahirkan Harapan

Enam bulan yang sunyi itu bukan hanya tentang doa dan ketakutan ia juga menyiapkan aku untuk babak baru dalam hidupku. Aku belajar menahan air mata, menahan gosip, dan menahan diri sendiri. Tapi di balik semua kesunyian itu, Tuhan selalu menyiapkan sesuatu yang lebih besar sesuatu yang akan datang tanpa pemberitahuan, sesuatu yang akan mengubah cara aku melihat hidupku. Hari-hari yang sunyi itu, meski penuh tekanan, ternyata menjadi pelatihan untuk menghadapi tanggung jawab yang lebih berat: kehidupan yang lahir dari tubuhku sendiri, harapan yang nyata namun rapuh, dan kasih yang harus aku jaga dengan seluruh kekuatan hatiku.

Aku mengandung di tengah hidup yang tidak pernah benar-benar tenang. Enam bulan usia kandunganku, ketika perutku mulai berat dan langkahku melambat, kami justru sedang musim panen. Tidak ada pilihan untuk berdiam diri. Ladang tidak mengenal alasan, dan perut tidak bisa menunggu.

Aku ikut mengangkut padi.

Punggungku basah oleh keringat, kakiku menapak jalan tanah yang licin bekas hujan semalam masih menyisakan lumpur. Aku melangkah hati-hati, memeluk karung padi sekuat yang aku bisa. Setiap tarikan napas terasa berat, tetapi aku terus berjalan. Aku sudah terbiasa memaksa tubuhku sendiri.

Namun nasib tidak selalu bisa ditantang.

Langkahku terpeleset. Tanah yang licin menarik kakiku, dan tubuhku jatuh menghantam bumi. Dadaku sesak. Tanganku gemetar memeluk perutku. Dunia seketika sunyi, hanya detak jantungku yang terasa sangat keras.

Suamiku panik.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan jelas di matanya.

Ia langsung membawaku ke bidan, lalu ke tukang urut. Tanganku dingin, dan pikiranku dipenuhi bayangan buruk. Tukang urut itu memijat perlahan, wajahnya serius.

“Jangan angkat yang berat-berat lagi,” katanya.

“Nanti setelah melahirkan, datanglah ke sini lagi.”

Lihat selengkapnya