BAB 19
Arti Sebuah Nama
Anakku lahir pada pagi yang tenang, ketika matahari belum sepenuhnya naik dan dunia terasa masih setengah terjaga. Tangisnya pecah pelan, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat dadaku bergetar. Saat itu aku tahu, hidupku telah berubah. Tubuhku lelah, perutku masih nyeri, tetapi hatiku dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan campuran antara takut, haru, dan bahagia yang terlalu besar untuk ditampung.
Suamiku berdiri di samping ranjang, wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Ia menggenggam tanganku erat, seolah takut kehilangan. Aku jarang melihatnya seperti itu. Biasanya ia tenang, terkendali, bahkan sedikit kaku. Tetapi hari itu, ia tampak seperti seorang anak laki-laki yang baru saja diberi hadiah paling berharga dalam hidupnya.
“Anak kita,” katanya lirih, nyaris berbisik.
Aku menoleh. Di matanya ada cahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Sejak saat itu, ia menjadi orang yang paling sibuk dan paling bahagia di dunia. Ia bolak-balik melihat bayi kami, memastikan napasnya teratur, jari-jarinya lengkap, wajahnya tenang. Berkali-kali ia mengucap syukur. Berkali-kali pula ia menyentuh kepala kecil itu, seolah ingin memastikan bahwa semua ini nyata, bukan mimpi yang akan hilang ketika ia terbangun.
Tak lama kemudian, ia menyebutkan sebuah nama.
Namanya indah. Lembut. Panjangnya pas. Ketika ia mengucapkannya, suaranya terdengar mantap, seolah nama itu telah lama tinggal di kepalanya, menunggu saat yang tepat untuk keluar. Aku mengulang nama itu pelan, merasakannya di lidahku. Ada kehangatan yang menyusup ke dadaku. Aku membayangkan anakku kelak dipanggil dengan nama itu di sekolah, di rumah, di dunia yang belum ia kenal.
Aku tersenyum. Aku bahagia.
Namun kebahagiaan itu belum selesai diuji.
Beberapa hari setelah kami pulang ke rumah, ketika suasana sudah lebih tenang dan malam terasa panjang, suamiku kembali membicarakan nama itu. Kali ini dengan nada yang berbeda. Ia tidak lagi penuh semangat, melainkan hati-hati, seperti seseorang yang membawa benda rapuh.