BAB 20
Dua Kepergian yang Tidak Pernah Siap Kutahan
Selama hidupku, aku telah belajar menahan sunyi, menanggung luka, dan berjalan sendiri melewati jalan yang sering terasa terlalu berat. Aku telah berlatih untuk kuat demi anakku, demi rumah tangga yang belum sempurna, demi diri sendiri yang perlahan mencoba berdiri tegak. Namun, di balik semua ketabahan itu, ada satu hal yang selalu membuat hatiku gemetar: kehilangan. Kehilangan yang tidak bisa diprediksi, yang datang tanpa peringatan, dan yang tak pernah bisa aku persiapkan sepenuhnya. Karena meski aku belajar bertahan, aku belum benar-benar siap menghadapi mereka yang paling kucintai pergi selamanya
Aku tidak pernah benar-benar siap kehilangan siapa pun. Terlebih kehilangan orang tua, sementara hidupku sendiri masih rapuh dan belum selesai.
Ayahku pergi lebih dulu.
Saat itu aku sedang hamil dua bulan. Tubuhku masih lemah, pikiranku masih dipenuhi kecemasan tentang bagaimana aku akan menjadi ibu. Aku belum sempat memberi ayah kabar tentang cucu yang sedang tumbuh di rahimku. Aku pikir masih ada waktu. Aku selalu berpikir masih ada waktu.
Ternyata tidak.
Ayah meninggalkan dunia ini tanpa banyak kata. Seperti hidupnya pendiam, tertutup, dan jarang mengeluh. Ia pergi begitu saja, meninggalkan lubang besar di hidup kami. Adikku belum juga pulang. Tidak ada kepulangannya, tidak ada pelukannya di pemakaman ayah. Hanya doa-doa lirih dan tanah merah yang menutup tubuh ayah untuk selamanya.
Aku berdiri di sana dengan perut kecilku yang mulai membulat, menahan tangis. Aku bukan hanya kehilangan ayah aku kehilangan tempat pulang.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar sembuh.
Ketika anakku berumur satu setengah tahun, ibukku jatuh sakit parah.
Hari-hari menjelang kepergiannya adalah hari-hari yang paling sering kuingat, bahkan ketika aku tidak ingin. Ibukku semakin lemah. Napasnya berat. Matanya sering terpejam, tetapi sesekali terbuka seolah ingin memastikan kami masih ada di sekelilingnya.
Suatu hari, dengan suara yang sangat pelan, ia memintaku membelikan gula.
Hanya gula.
Aku terdiam. Dadaku sesak. Aku tidak punya uang. Suamiku belum memberiku uang. Uangku sendiri hanya cukup untuk ongkos pulang. Aku berjanji dalam hati akan membelinya nanti, ketika ada rezeki. Aku mengira itu bisa ditunda.
Aku tidak tahu…
itu adalah permintaan terakhir ibukku.
Hari itu berlalu begitu saja, tetapi penyesalan itu menetap sampai sekarang. Tidak ada hari di mana aku tidak mengingat permintaan kecil itu. Bukan karena gulanya, tetapi karena aku gagal memenuhi keinginan terakhir orang yang melahirkanku. Saat sakitnya semakin parah, aku, kakakku, dan anakku yang kecil menemaninya. Kami tidak mampu membawanya ke rumah sakit. Tidak ada uang. Tidak ada kendaraan. Tidak ada pilihan. Kami hanya bisa berobat ala kadarnya, berharap keajaiban turun dari langit. Malam itu, penyakit ibukku bertambah parah. Tengah malam, napasnya semakin berat. Wajahnya pucat. Aku dan kakakku duduk di sisinya, mengawasi dengan mata yang sudah merah karena menangis dan kurang tidur.
Dalam keadaan genting itu, kakakku menyuruhku membangunkan tetangga, meminta bantuan.
Aku berlari keluar rumah.