BAB 21
Tangga yang Sunyi
Sejak kepergian ayah dan ibu, rumah itu terasa berbeda sunyi bukan hanya karena dinding tua dan lantai yang berderit, tetapi karena ruang-ruang yang dulu diisi tawa dan panggilan kini kosong tanpa arah. Aku belajar bahwa kehilangan bukan hanya soal mereka yang pergi, tetapi juga tentang bagaimana orang yang masih ada kadang terasa jauh. Bahkan adikku, yang darah dagingku sendiri, bisa pulang tanpa benar-benar hadir di hatiku. Aku menatap langit malam dari rumah kecilku, dan di antara bintang-bintang yang tenang, aku menyadari: kadang jarak bukan soal kilometer, tetapi tentang rasa yang retak perlahan, tentang tangga yang menyimpan penantian yang tak kunjung dijawab.
Rumah itu tidak benar-benar kosong.
Ia masih berdiri utuh, dengan dinding yang sama, lantai yang sama, dan bau kayu tua yang tidak pernah berubah. Namun sejak kepergian orang tua kami, rumah itu kehilangan sesuatu yang tak bisa diganti suara doa di subuh hari, langkah kaki ayah yang berat tapi menenangkan, dan panggilan ibu yang selalu memanggil nama kami satu per satu seolah takut kami akan hilang.
Kakak yang sudah menjanda tinggal di sana Bersama anak semata wayangnya.
Bukan karena tidak ada keluarga, tetapi karena sepi memilihnya lebih dulu.
Beberapa tahun berlalu sejak pemakaman terakhir. Hari-hari kulalui dengan rutinitas sederhana, ditemani kenangan yang sering datang tanpa diundang. Surat-surat yang kukirim ke adikku yang sejak lama merantau tak pernah berbalas. Setiap amplop yang kembali tanpa jawaban seperti pengakuan diam-diam bahwa jarak tidak selalu soal kilometer, tetapi juga tentang hati yang perlahan menjauh.
Aku selalu berpikir, mungkin ia sibuk.
Mungkin hidup di rantau terlalu keras.
Mungkin suatu hari ia akan pulang, duduk di ruang tengah, dan bercerita seperti dulu tentang mimpi-mimpinya, tentang lelahnya dunia, tentang hal-hal kecil yang dulu selalu ia ceritakan padaku.
Dan hari itu akhirnya datang.
Lebaran.
Kampung mendadak hidup kembali. Suara takbir bersahut-sahutan, aroma masakan menyelinap dari rumah ke rumah, dan senyum-senyum lama muncul kembali meski sebagian wajah telah berubah. Kakakku yang telah lama menjanda yang tinggal dirumah kami ke rumah itu. Rumah yang sudah lama sepi, kini kembali berpenghuni
Aku menunggu adikku.