BAB 22
Ayah di Mata Anakku
Sejak kepergian ayah dan ibu, aku belajar satu hal pahit: kehilangan tidak memberi peringatan, dan waktu untuk mengatakan “aku mencintaimu” sering kali habis sebelum kita sempat mengucapkannya. Setiap langkahku kini terasa lebih berat, tetapi juga lebih sadar akan siapa yang benar-benar hadir dalam hidupku. Dalam diamnya, suamiku menunjukkan cara yang tak pernah diajarkan siapapun: bahwa cinta tidak selalu harus riuh, tidak selalu harus menuntut pengakuan. Aku melihatnya di setiap pagi saat ia menatap putriku, di setiap malam saat ia menjaga anak kami tertidur pulas. Dan di sanalah aku sadar bahwa belajar mencintai, dan belajar menerima cinta, bisa muncul dari hal-hal yang paling sederhana sekaligus paling berarti.
Sejak putriku lahir, aku menyadari satu hal yang tidak pernah bisa kuingkari: “ayahnya mencintainya dengan caranya sendiri.” Bukan dengan kata-kata manis, bukan dengan pelukan berlebihan, tetapi dengan kehadiran yang diam-diam menetap. Anakku tidak bisa tidur jika ayahnya belum pulang.
Matanya akan terbuka setengah, tangannya menggenggam kain, dan ia akan bertanya lirih,
“Ayah mana?”
Jika ayahnya belum datang, tidurnya tidak pernah benar-benar nyenyak.
Bahkan saat kami pergi ke kampung orang lain, ia selalu menoleh, mencari sosok ayahnya di antara keramaian.
Ikatan mereka dekat, meski tidak riuh.
Suamiku tidak memanjakan anak kami, tetapi ia mengenalkannya pada dunia luar. Ia membawa buah-buahan dari pasar buah yang bagi kami terasa mewah. Ia membawakan makanan-makanan baru, hanya agar putrinya tahu bahwa dunia tidak berhenti di nasi dan garam. Ia ingin anaknya mengenal rasa, mengenal kemungkinan. Saat anak kami berumur dua tahun, cintanya justru menjadi berlebihan. Anakku hanya mau makan jika ada telur rebus. Suamiku menuruti. Setiap hari telur rebus. Aku sudah mengingatkan, tetapi ia hanya tersenyum dan berkata, “Biar dia kenyang.”
Kami tidak tahu, cinta juga bisa melukai tanpa sengaja.
Di usia dua tahun, anakku mulai alergi protein. Tubuhnya bereaksi keras. Itu berlanjut bertahun-tahun. Bahkan saat ia berumur sembilan tahun, kondisinya sempat sangat parah selama hampir setahun ia hanya bisa makan kentang dan nasi putih. Hidup berjalan begitu saja, dengan kekhawatiran yang kami simpan dalam diam. Namun dari semua kenangan, ada satu peristiwa yang tidak pernah hilang dari ingatanku peristiwa yang membuktikan betapa dalam cinta seorang ayah, bahkan ketika ia hampir kehilangan akal karena takut.
Anakku berumur empat tahun saat itu.
Siang hari, aku sedang menjemur padi. Suamiku memasak di dapur. Putriku, yang sudah bisa mengangkat air dengan ember kecilnya, merengek ingin ke sungai. Aku tidak bisa menemaninya. Suamiku mendengar rengekannya. Kebetulan ada tetangga lewat, hendak mengambil air ke sumur, bukan ke sungai.
Aku menitipkan anakku.
Aku tidak tahu dan suamiku juga tidak tahu bahwa anakku tidak menuju sungai.
Lima menit kemudian, terdengar suara menggelegar.
Pohon besar tumbang di pemandian warga.
Suara itu terdengar sampai ke rumah kami.