BAB 23
Bertani, Bertahan, Bertarung dengan Hidup
Setelah peristiwa pohon tumbang itu, hidup kami tidak berubah secara lahiriah, tetapi ada sesuatu yang retak di dalam diri kami semua. Aku, suamiku, dan anak kami masing-masing membawa ketakutan sendiri, meski tidak pernah duduk bersama untuk membicarakannya. Suamiku kembali menjadi pendiam. Namun kini diamnya bukan sekadar kebiasaan, melainkan luka yang belum sembuh. Ia masih jarang bicara, masih sering keluar rumah, tetapi aku tahu satu hal:
“sejak hari itu, ia tidak pernah lagi melepaskan anak kami terlalu jauh dari pandangannya.”
Aku kembali ke ladang.
Ke tanah.
Ke kerja yang tidak pernah menanyakan perasaan.
Bertani adalah hidup kami. Aku menanam dengan tangan sendiri, mencangkul dengan napas terputus-putus, menyiangi rumput di bawah matahari yang tak pernah iba. Aku menggendong anakku ke ladang ketika ia belum sekolah, menidurkannya di tikar, menyuapinya nasi putih dan lauk seadanya.
Tubuhku lelah, tetapi pikiranku lebih lelah lagi.
Anakku tumbuh dengan tubuh yang sensitif. Alergi protein itu terus menghantuinya. Ada masa-masa ketika ia hanya bisa makan kentang dan nasi putih. Setiap kali melihat anak lain makan bebas, dadaku seperti diremas. Aku bertanya pada Tuhan dalam diam:
“kenapa harus anakku?”
Namun anakku tidak pernah mengeluh.
Ia tumbuh menjadi anak yang tenang, peka, dan terlalu cepat dewasa. Ia sering menatap ayahnya lama-lama, seolah ingin memahami lelaki itu. Ayahnya, dengan caranya sendiri, mengajaknya berjalan jauh, mengenalkan sungai, pasar, kebun, dan jalan tanah menuju kampung lain. Ia tidak banyak bicara, tetapi ia mengajak anaknya melihat dunia.