BAB 24
Tiga Tahun yang Tidak Pernah Kami Tinggalkan
Anakku berusia tujuh tahun ketika hidup kembali menguji batas kesabaranku.
Perempuan yang selama ini menjadi tempatku bersandar mertuaku perlahan kehilangan akalnya. Idan, kata orang kampung. Penyakit yang tidak hanya merusak ingatan, tetapi juga merobohkan martabat manusia sedikit demi sedikit.
Ia berubah menjadi sosok yang kacau. Ia buang air besar dan kecil di mana saja. Kadang di sudut rumah, kadang di depan dapur, kadang di tempat tidur sendiri. Rumah yang dulu selalu rapi, perlahan dipenuhi bau yang tidak bisa sepenuhnya hilang meski disiram air berkali-kali. Dengan ekonomi yang pas-pasan, aku dan suami tetap harus pergi ke ladang sejak pagi hingga menjelang magrib. Hidup tidak memberi pilihan untuk berhenti hanya karena kami lelah.
Aku sering pergi ke ladang dengan hati berat. Setiap langkah menjauh dari rumah terasa seperti meninggalkan sesuatu yang rapuh tanpa perlindungan. Namun kami tidak punya siapa-siapa. Tidak ada perawat. Tidak ada uang. Hanya kami bertiga: aku, suami, dan anak kecil yang belum sepenuhnya mengerti betapa berat beban orang dewasa.
Suatu hari, ketika kami pulang dari ladang, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bau menyengat menyambut kami. Dan di sudut rumah, aku melihat anakku masih kecil, masih terlalu dini untuk mengerti sedang membersihkan kotoran neneknya dengan tangan sendiri. Wajahnya serius, seolah itu adalah tugas yang harus ia lakukan.
Saat itu juga suamiku marah besar.
Bukan pada anak kami, tetapi pada keadaan. Pada hidup. Pada kenyataan bahwa anak kecil kami harus ikut menanggung beban yang tidak seharusnya.
Sejak hari itu, suamiku melarang anak kami ikut membersihkan apa pun. Ia juga melarangku.
“Itu ibuku,” katanya singkat.
“Biar aku.”
Dan ia benar-benar melakukannya.
Ia membersihkan ibunya sendiri. Ia memandikannya. Ia mengurus hajatnya. Ia tidak pernah membiarkan aku atau anak kami menyentuh bagian paling berat dari perawatan itu. Tugasku hanya memasak, menyiapkan makan, dan mencuci pakaian mertua yang tidak terkena kotoran. Selebihnya, ia tanggung sendiri.