Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #25

Tiga Tahun yang Tidak Pernah Kami Tinggalkan Part II

BAB 25

Tiga Tahun yang Tidak Pernah Kami Tinggalkan

Part II

Setelah tiga tahun penuh merawat mertuaku yang sakit, aku mulai menyadari bahwa hidup tidak pernah memberi jeda bagi mereka yang sudah lelah. Bahkan ketika rasa lelah itu seharusnya diiringi kelegaan, kehilangan kembali mengetuk pintu kami lebih sunyi, lebih berat, dan datang tepat ketika kami sudah terbiasa menahan diri. Hari itu, aku tahu, ujian baru akan dimulai, dan aku harus siap menghadapi kehilangan yang tak pernah benar-benar bisa kutahan. Hari yang sulit dating yaitu hari dimana aku harus menerima kenyataan bahwa mertuaku menghembuskan napas terakhir.

Hari itu tidak hujan, tidak juga terlalu panas. Namun dunia terasa seperti kehilangan warna. Rumah yang selama tiga tahun terakhir dipenuhi bau obat, langkah gelisah, dan panggilan-panggilan tak utuh, tiba-tiba menjadi terlalu sunyi.

Mertuaku pergi dengan tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada kegaduhan. Napasnya melemah perlahan, lalu berhenti begitu saja. Saat itu aku tahu kami benar-benar kehilangan dia.

Anakku menangis paling lama. Tangisnya bukan tangis yang gaduh, melainkan tangis kehilangan yang dalam dan sunyi. Ia memeluk tubuh neneknya, seolah berharap ada satu panggilan lagi, satu sentuhan lagi, satu suara yang memanggil namanya dengan cara khas yang hanya dimiliki mertuaku. Tidak ada lagi yang tiba-tiba memanggilnya di pagi hari.

Tidak ada lagi yang mengajarinya surah-surah pendek dengan suara terputus-putus. Tidak ada lagi tangan renta yang mengelus kepalanya dengan kasih yang sederhana.

Dan aku…

aku kehilangan lebih dari sekadar seorang mertua.

Selama ini, dalam diam, mertuakulah tempatku bersandar. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu ada. Ia tidak selalu membelaku dengan kata-kata, tetapi kehadirannya membuatku merasa tidak sendirian. Setelah ia pergi, aku benar-benar merasa sendirian di dunia ini.

Suamiku terpukul berat. Ia tidak banyak menangis, tetapi tubuhnya bicara. Beberapa minggu setelah kepergian ibunya, ia jatuh sakit. Badannya lemah, pikirannya kosong. Ia sering termenung lama di tempat ibunya biasa duduk. Aku tahu, di dalam dirinya ada penyesalan yang tidak sempat diucapkan.

Lihat selengkapnya