Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #26

Hampir Kehilangan

BAB 26

Hampir Kehilangan  

Kehidupan kami berjalan seperti biasa, seolah semua yang telah kami lewati hanyalah riak kecil di permukaan. Kami kembali ke rutinitas ladang, dapur, sekolah, dan hari-hari yang terus berputar tanpa bertanya apakah kami siap atau tidak. Hingga akhirnya, hidup membawaku ke satu titik yang membuatku hampir kehilangan segalanya anakku.

Setelah SMA, anakku tumbuh menjadi remaja yang aktif. Ia terlibat dalam organisasi, mengikuti berbagai kegiatan dan lomba. Tubuhnya sering lelah, tetapi semangatnya tidak pernah padam. Ia jarang mengeluh. Aku bangga, sekaligus khawatir. Aku tahu, di balik keberaniannya, tubuhnya sering bekerja lebih keras daripada yang ia akui.

Suatu malam, suamiku kembali bertingkah. Ia pulang menjelang pagi, dengan langkah sempoyongan dan bau tuak yang menyengat. Saat itu, anakku sedang bersiap pergi ke sekolah. Rambutnya masih basah, tas sudah di punggung, wajahnya pucat karena kurang tidur. Sesuatu dalam diriku akhirnya pecah.

Aku marah.

Marah yang sudah lama kutahan.

Aku berteriak. Aku mengeluarkan semua yang selama ini kupendam. Pertengkaran kami terdengar ke seluruh kampung. Suamiku, yang jarang mengangkat tangan, tiba-tiba kehilangan kendali. Ia hendak memukulku. Aku berteriak sekuat-kuatnya. Dan saat itulah anakku berdiri di antara kami.

Wajahnya pucat. Matanya penuh ketakutan.

Melihat anak kami berdiri di sana, suamiku berhenti. Tanpa sepatah kata, ia pergi meninggalkan rumah. Aku terduduk, menangis tanpa suara. Anakku memelukku sebentar, lalu pergi ke sekolah. Ia berangkat tanpa sarapan, dengan hati yang luka dan tubuh yang sudah kelelahan oleh aktivitas berhari-hari.

Beberapa hari berlalu. Aku mengira semuanya akan baik-baik saja. Namun seminggu kemudian, anakku mulai demam. Panasnya tinggi. Asam lambungnya naik. Saat itu ia sedang menghadapi ujian kenaikan kelas. Aneh, ia tetap memaksa berangkat ke sekolah. Aku tidak tahu ternyata ia hanya pura-pura kuat.

Sakitnya sudah terlalu dalam.

Suatu hari, tubuhnya benar-benar menyerah. Ia tidak sanggup berdiri. Aku panik dan langsung memanggil bidan sepupu anakku sendiri. Setelah memeriksa, ia langsung memberi infus dan berkata dengan wajah serius,

“Kalau panasnya tidak turun, besok kita bawa ke rumah sakit. Ini sudah parah.”

Lihat selengkapnya