BAB 28
Pendidikan yang Tinggi
Detik-detik kelulusan SMA anakku adalah hari yang tidak pernah benar-benar siap kuterima. Bukan karena aku tidak bahagia, tetapi karena aku tahu setelah ini, hidup akan menuntut lebih banyak keberanian.
Aku bahkan tidak tahu bahwa anakku diam-diam mendaftar ke kampus impiannya.
Kabar itu tidak datang langsung darinya. Ia menitipkan pesan lewat orang kampung, karena saat itu ia sedang pergi mengunjungi wali kelasnya. Ketika pesan itu sampai padauk bahwa anakku lulus seleksi masuk perguruan tinggi lututku langsung lemas.
Aku menangis.
Tangisku bukan hanya karena bangga, tetapi karena takut. Aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku mampu menyekolahkannya setinggi itu? Aku hanyalah perempuan kampung, hidup dari ladang dan kerja kasar. Tetapi suamiku berkata satu kalimat yang sampai hari ini masih kuingat jelas:
“Kita pasti bisa.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi pegangan kami.
Sejak hari itu, kami bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kami menggembala kambing milik sepupuku. Suamiku bekerja mengangkat pasir. Aku tetap bertani, mencangkul tanah, menanam, memanen apa pun yang bisa kulakukan agar anakku tidak kelaparan di perantauan.
Menyekolahkan anak ke perguruan tinggi ternyata bukan perkara mudah.
Aku menerima cibiran yang menyakitkan. Ada yang berkata bahwa jika bukan karena “menjual diri”, anakku tidak akan mungkin kuliah. Ada yang bersumpah bahwa anakku pasti berhenti di tengah jalan. Kata-kata itu menusuk, bukan karena aku ragu pada anakku, tetapi karena dunia sering kejam pada orang miskin yang berani bermimpi.