BAB 29
Hampir Menyerah
Ada masa ketika aku berpikir mungkin aku terlalu memaksa.
Mungkin aku egois karena memelihara mimpi anakku, sementara tubuh dan hidup kami sendiri sudah terlalu lelah.
Semua itu bermula dari seratus ribu rupiah.
Seratus ribu per minggu.
Itulah angka yang awalnya kami sepakati angka yang kupikir sudah sangat besar untuk kemampuan kami. Aku menghitungnya berulang kali, menyesuaikan dengan sisa uang dapur, biaya beras, garam, dan minyak. Aku memaksakan keyakinan pada diriku sendiri bahwa itu cukup. Bahwa anakku bisa bertahan. Bahwa hidup di rantau memang harus keras.
Sampai suatu hari, telepon itu berbunyi.
Aku masih ingat betul suaranya. Bukan nada deringnya, tetapi suara anakku ketika aku mengangkat panggilan itu. Suaranya bergetar. Terputus-putus. Ia berusaha kuat, tetapi gagal.
“Mak… maaf… uangnya… nggak cukup…”
Kalimat itu seperti pisau yang ditarik pelan dari dadaku. Aku terdiam. Tanganku dingin. Dadaku sesak. Aku tidak langsung menjawab, bukan karena aku marah, tetapi karena aku takut, takut mendengar kelanjutannya.
Ia menangis.
Tangis yang bukan manja. Tangis yang kutahu berasal dari rasa terdesak. Ia bercerita dengan suara tertahan: harga makan yang naik, kebutuhan kuliah yang tak bisa ditunda, biaya ini dan itu yang datang tanpa permisi. Ia berkata ia sudah menghemat. Sudah menahan lapar. Sudah mencoba cukup dengan yang ada.
Dan saat itu, aku runtuh.