Anyaman di Rambut Si Kribo

Ulva Idaryani Daulay
Chapter #31

Anyaman Terakhir

BAB 31

Anyaman Terakhir

Hidupku seperti anyaman tikar tua.

Benangnya tidak selalu indah.

Ada yang kasar, ada yang putus, ada yang kusut.

Warna gelap lebih banyak daripada terang, dan luka-luka lama tak pernah benar-benar sembuh.

Beberapa benang bahkan kuikat dengan tangan gemetar, takut semuanya terurai.

Namun ketika kutatap dari kejauhan,

aku mulai mengerti

anyaman itu tidak diciptakan untuk indah,

melainkan untuk kuat.

Dan dari semua benang yang kususun dengan tertatih,

terbentuklah satu pola utuh:

kehidupan.

Aku menganyam hidupku dari kehilangan ayah,

dari pelukan ibu yang pergi terlalu cepat,

meninggalkan dingin yang tak pernah sepenuhnya hilang.

Aku menganyamnya dari pernikahan sederhana tanpa pesta adat,

tanpa iring musik,

tanpa doa yang dilantangkan ramai-ramai.

Hanya keyakinan sunyi bahwa kami harus bertahan.

Aku menganyamnya dari tangisan bayi

di malam tanpa lampu,

ketika gelap lebih dulu datang daripada pagi.

Dari lapar yang kutahan agar anakku kenyang,

dari hinaan yang kutelan agar rumah tetap utuh,

dari doa-doa yang kuucapkan diam-diam

karena suaraku terlalu lemah untuk menangis keras.

Setiap benang menyimpan cerita.

Setiap simpul menyimpan air mata.

Ada yang kubuat dari harapan,

ada yang terpaksa kubuat dari kepasrahan.

Dan benang terkuat dalam anyaman itu adalah anakku.

Lihat selengkapnya