Seorang ibu rela menukar nyawanya demi sang buah hati. Bahkan, dalam melangitkan doa, ia lebih banyak menyebutkan nama anaknya dibanding dirinya sendiri. Begitu mulianya sang ibu. Namun, itu ibu orang lain, tidak dengan ibuku. Mungkin saja dalam doanya, ia justru menyebutkan dosaku saja, dan meminta Tuhan segera menghukumku. Namun, yang menjadi pertanyaan, apa salahku hingga ibu begitu membenciku?
Seperti sore ini, aku yang melakukan aktivitas di dapur, terperanjat mendengar Isak tangis anakku yang berusia 7 tahun.
"Gina, kamu kenapa, Nak?" tanyaku begitu berada di dekatnya sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
Kulihat, dada anak gadisku ini turun naik, berusaha menahan ritme tangisannya.
"A-apa aku anak yang nakal, Bu? Ke-kenapa nenek suka marah setiap aku ke rumahnya?"
Pertanyaan itu melucur terbata dari bibir kecil Gina. Aku menarik nafas, rasanya seperti ada kepalan tinju menghantam dada, membuat memar yang tak terlihat di sana. Lagi-lagi, ini perbuatan ibuku.
"Gina anak ibu yang paling baik, anak kebanggaan ibu. Nenek mungkin lagi sakit kepala, jadi gak suka kalau dengar ribut atau lihat Gina lari-larian di dekatnya."
Rambut hitam lurus itu kubelai, berusaha meyakinkan jika ia bukan anak nakal, dan neneknya tidak membencinya. Meski hati kecilku mengingkari itu. Sudah sangat jelas, ibuku membenciku juga membenci anakku.
"Aku gak buat ribut, gak lari-larian juga. Aku cuma lewat, tapi nenek langsung marah. Katanya aku gak boleh lewat depan rumahnya."
Aku menengadah, menatap langit-langit dapur. Berusaha tegar di depan anakku, walau hati ini rasanya teriris. Ibu mana yang hatinya tidak sakit mendengar anaknya diperlakukan seperti itu? Tapi pertanyaan itu tidak berlaku bagi ibuku yang sedari kecil, aku tidak pernah dibela, selalu disalahkan, tanpa kutahu pasti apa salahku. Cukuplah hal pahit itu aku yang rasa, Gina jangan pernah. Aku akan memutus rantai ketidakadilan itu.
"Sudah, sudah. Sekarang, Gina mandi dulu biar segar, oke. Nanti ibu buatkan susu coklat hangat kesukaanmu," bujukku menenangkan.
Dengan wajah polosnya, Gina mengangguk, kemudian berlalu menuju kamar mandi. Aku menatap punggung kecilnya dengan pandangan lurus, sejenak aku melihat bayangan almarhum suamiku di sana. Sifatnya yang sabar dan penurut itu turun sepenuhnya pada Gina.
Dulu, tak pernah sekalipun suaranya melengking. Ia hanya akan berbisik pelan, 'Ingat dosa, Bu,' atau sekadar mengingatkanku untuk bersabar saat badai amarah ibuku datang menyerang. Kini, senyum yang sempat terukir di bibirku luruh bersama tetesan air mata.
Dadaku sesak. Bagaimana mungkin satu-satunya 'akar' tempat kami berlindung, justru menjadi tangan yang menyiramkan racun ke pertumbuhan Gina? Entah sihir hitam apa yang mendekam di kepala Ibu, sampai ia tega menghakimi darah dagingnya sendiri yang kini mengalir di tubuh cucunya.
Kuembuskan napas kasar, mencoba mengusir sesak yang berjejalan di rongga dada. Sesuai janji, segelas susu cokelat hangat mulai kusiapkan. Di tengah denting sendok yang beradu dengan gelas, suara salam dari arah luar menyentuh telingaku. Itu Ayah.
"Waalaikumsalam," sahutku tanpa beranjak.
Kedatangannya bukan hal asing. Rumah kami hanya disekat lahan kosong, dan biasanya ia datang membawa sesuatu untuk Gina. Ayah memang antitesis dari Ibu, dia perhatian, hangat. Namun sayangnya, dia tidak punya cukup nyali untuk memasang badan di depan wanita yang melahirkanku itu. Dia adalah pria baik yang memilih menjadi penonton dalam penderitaanku.
"Anakmu mana, Ren?"