Pandanganku tajam menatap netra tua ayah. Mencoba mencari kebenaran lewat jendela hati yang konon tidak bisa berbohong itu.
"Ibumu itu hipertensi, bawaannya memang suka mau marah terus."
Seperti biasa, ayah akan menjawab dengan nada pelan, dan dengan jawaban yang terasa sudah mengkerak di telinga, membuatku muak untuk terus mendengarnya.
"Itu bukan jawaban yang aku mau, Yah. Logikanya di mana? Hanya karena darah tinggi, trus anak dibenci dari lahir sampai punya cucu?" tampikku memukul dada, mulai kesal. "Aku ini anak pungut atau apa?"
Aku merasa gila dengan drama keluarga ini, hingga tanpa sadar, suaraku naik satu oktaf. Menggema dan menyebar aura ketegangan di ruang dapur yang tidak terlalu luas. Kulihat ayah hanya menunduk sambil memilin ujung kemejanya.
"Kenapa ayah diam? Ngomong!"
Emosiku mulai meledak, urat leher menegang— kesal dengan sikap ayah. Ekspresi yang ditunjukkan, terasa seperti orang yang bersalah. Namun, didetik berikutnya emosiku harus kuredam saat ekor mataku menangkap bayangan yang berdiri di pintu kamar. Gina! Ekspresi wajah yang tadinya pecah seribu, berusaha kulemaskan sebelum menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Nak?" tanyaku berusaha berkata lembut dengan hiasan senyum, meski berat rasanya menarik kedua ujung bibir ini.
"Jangan marahin Kakek, Bu. Kasihan kakeknya sudah tua," tuturnya polos dengan mata berkaca-kaca. Boneka beruang erat dalam pelukannya.
Emosi yang tadi menggebu-gebu serasa menguap begitu saja mendengar celotehan Gina. Entah aku harus tertawa atau menangis sedih. Gina seolah menjadi pengganti ayahnya, pengontrol emosiku.
"Nggak sayang. Ibu nggak marahin Kakek." Aku mengelak. "Tanya, aja, sama kakek."
Kini, Pandangan Gina terarah ke Ayah. Mungkin ingin memastikan kebenaran dari ucapanku tadi.
"Ah ... Iya, Nak. Ibumu nggak lagi marah. Kakek sudah tua, agak tuli, jadi ibumu harus berbicara keras biar kedengeran." Seperti halnya diriku, Ayah pun berusaha menyembunyikan hal yang terjadi.
Kalau begitu aku pulang dulu," lanjutnya dengan suara pelan, berdiri dari duduknya seolah ingin menghindar.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk tanpa kata. Pertanyaan yang sudah berpuluh-puluh tahun berdiam di kepala, masih saja belum menemukan jalannya. Seperi sebuah misteri yang tidak ada satu orang pun mampu pecahkan.
Ke mana lagi harus kucari jawabannya? Kepada siapa aku harus bertanya? Bude Icha yang merawatku, juga memilih bungkam. Setahuku, Bude pun dimusuhi Ibu, dan sudah lama tidak kudengar kabarnya. Lalu, kepada dua saudara laki-lakiku yang merantau di luar kota? Mereka paling menjawab, "Maklumi saja, namanya juga orang tua ".
Ini bukan hal sepele yang bisa dimaklumi. Andai aku memecahkan gelas kesayangan Ibu, lalu aku dimarahi, mungkin aku bisa menerima. Tapi ini? Tanpa kutahu salah dan dosaku, aku dibenci. Ibu seolah melihatku seperti kotoran. Jangankan diriku secara langsung, melihat bayanganku saja sudah membuatnya murka. Cacian, hinaan, bahkan terkadang mengusirku dari rumah pemberian ayah ini. Aku hanya berusaha tetap menahan diri.
Sore pun berlalu menuju malam, meninggalkan tanya yang tak terjawab, tenggelam bersama waktu yang berganti. Sebagai ibu satu anak, aktivitasku tidak terlalu sibuk seperti ibu lainnya yang memiliki suami dan banyak anak. Rumah tua yang sedikit demi sedikit sudah kurenovasi saat suamiku masih hidup, selalu dalam keadaan bersih. Gina anak yang pengertian, setiap selesai bermain, ia selalu membereskan mainannya sendiri, meletakkan di tempat yang semula.