Apakah aku salah mencintai wanita tua

Afandi
Chapter #1

Bab 1 Pesan yang Tak Pernah Dibalas**





 Malam itu terasa seperti malam-malam sebelumnya bagi Ari.




 Sunyi.




 Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di sudut kamar, menemani pikirannya yang tak pernah benar-benar diam. Di tangannya, ponsel masih menyala. Layar itu menampilkan satu nama yang sudah beberapa minggu terakhir memenuhi isi kepalanya.




 **Supiyah.**




 Seorang wanita yang bahkan belum pernah ia temui.




 Seorang wanita yang usianya… jauh di atas dirinya.




 Tujuh puluh lima tahun.




 Ari menarik napas panjang.




 Ia tahu, jika orang lain mendengar ini, mereka mungkin akan tertawa. Menganggapnya aneh, bahkan gila. Bagaimana mungkin seorang pemuda 22 tahun bisa tertarik pada wanita seusia neneknya?




 Tapi perasaan… tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan logika.




 Semua bermula dari hal sederhana.




 Media sosial.




 Saat itu Ari hanya sedang iseng menggulir layar, melihat berbagai postingan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Sampai akhirnya ia berhenti pada satu foto.




 Foto seorang wanita tua.




 Tidak ada riasan berlebihan. Tidak ada pose mencolok. Hanya senyum sederhana, dengan keriput yang jelas terlihat di wajahnya. Tapi justru di situlah letak keindahannya.




 Ada ketenangan.




 Ada kehangatan.




 Ada sesuatu yang sulit dijelaskan… tapi terasa nyata.




 Sejak saat itu, Ari mulai memperhatikan akun itu.




 Namanya Supiyah.




 Postingannya tidak banyak. Hanya beberapa foto lama, tulisan singkat tentang kehidupan, dan sesekali doa-doa yang ia bagikan. Tapi setiap kata yang ia tulis terasa tulus.




 Dan tanpa sadar, Ari mulai menunggu.




 Menunggu postingan baru.




 Menunggu sesuatu yang bisa membuatnya merasa dekat… meski sebenarnya mereka tidak pernah saling mengenal.




 Hingga suatu hari, Ari memberanikan diri.




 Tangannya sempat ragu saat mengetik pesan pertama.




 *"Assalamu’alaikum, Bu. Maaf kalau mengganggu. Saya hanya ingin menyapa."*




 Sederhana.




 Sangat sederhana.




 Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol kirim.




 Pesan itu terkirim.




 Dan sejak saat itu… tidak ada balasan.




 Hari pertama, Ari masih tenang.




 "Mungkin beliau sibuk," pikirnya.




 Hari kedua, ia mulai membuka kembali pesan itu.




 Masih centang dua.




 Tapi tidak dibaca.




 Hari ketiga… keempat… hingga seminggu berlalu.




 Tidak ada perubahan.




 Namun anehnya, Ari tidak menyerah.




 Ia kembali mengirim pesan.




 Kali ini sedikit lebih panjang.




 *"Saya sering melihat postingan Ibu. Saya suka cara Ibu menulis. Terasa hangat."*




 Kirim.




 Dan lagi-lagi… tidak ada balasan.




 Seharusnya, di titik itu Ari berhenti.




 Seharusnya ia sadar bahwa dirinya hanya orang asing.




 Seharusnya ia menghapus perasaan aneh yang mulai tumbuh.




 Tapi ia tidak bisa.




 Ada sesuatu dalam dirinya yang terus mendorongnya untuk tetap mencoba.




 Bukan karena keras kepala.




 Tapi karena… ia merasa Supiyah bukan orang biasa.




 Ada kesepian yang ia rasakan dari tulisan-tulisan itu.




 Ada luka yang tersembunyi di balik kata-kata sederhana.




 Dan Ari… entah kenapa… ingin menjadi seseorang yang bisa menemani.




 Malam demi malam, ia kembali mengirim pesan.




 Tidak selalu panjang.




 Kadang hanya:




 *"Semoga Ibu sehat selalu."*




 Atau:




 *"Jangan lupa makan ya, Bu."*




 Pesan-pesan kecil.




 Pesan-pesan sederhana.




 Pesan yang mungkin terlihat tidak berarti bagi orang lain… tapi bagi Ari, itu adalah bentuk kepeduliannya.




 Dan tetap saja…




 Tidak ada balasan.




 Sampai suatu malam, hujan turun cukup deras.




 Ari duduk di dekat jendela, memandangi tetesan air yang jatuh tanpa henti. Suasana itu membuat hatinya terasa semakin sepi.

Lihat selengkapnya