Apakah aku salah mencintai wanita tua

Afandi
Chapter #2

Bab 2 Rasa yang Tumbuh Diam-Diam**




 Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut.




 Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Ari, jatuh tepat di wajahnya yang masih terpejam. Ia mengerjap pelan, lalu membuka mata dengan napas berat, seperti seseorang yang belum benar-benar ingin kembali ke kenyataan.




 Hal pertama yang ia lakukan bukan bangun.




 Melainkan meraih ponselnya.




 Masih dengan mata setengah terbuka, ia langsung membuka aplikasi yang sudah begitu akrab baginya akhir-akhir ini. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, meski ia sendiri tidak ingin mengakuinya.




 Ia membuka percakapan itu.




 Percakapan dengan satu nama yang terus mengisi pikirannya.




 **Supiyah.**




 Dan…




 Tidak ada balasan.




 Ari menghela napas panjang.




 Ada rasa kecewa yang tipis, tapi cukup terasa. Bukan kecewa yang besar, bukan juga yang menyakitkan. Lebih seperti… harapan yang kembali harus ia simpan sendiri.




 Ia menatap layar itu cukup lama.




 Membaca ulang pesan terakhir yang ia kirim semalam.




 *"Maaf kalau saya mengganggu, Bu. Mungkin Ibu tidak nyaman. Saya hanya ingin bilang… saya tidak punya niat buruk."*




 Pesan itu terasa berbeda dari pesan-pesan sebelumnya.




 Lebih jujur.




 Lebih terbuka.




 Dan mungkin… lebih rentan.




 Ari menutup matanya sebentar, lalu meletakkan ponsel di samping.




 “Sudahlah…” gumamnya pelan.




 Hari harus tetap berjalan.




 Ia bangkit dari tempat tidur, mencoba menjalani rutinitas seperti biasa. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia bohongi—




 Pikirannya tidak pernah benar-benar lepas dari Supiyah.




 Saat ia makan, ia teringat bagaimana ia pernah mengingatkan Supiyah untuk tidak lupa makan.




 Saat ia berjalan keluar rumah, ia membayangkan bagaimana kehidupan Supiyah di luar sana—apakah ia juga berjalan sendiri? Apakah ia punya seseorang untuk diajak bicara?




 Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul.




 Dan tanpa sadar, rasa itu tumbuh.




 Perlahan.




 Diam-diam.




 Tanpa izin.




 ---




 Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama.




 Ari tetap mengirim pesan.




 Tidak setiap hari panjang.




 Kadang hanya satu kalimat.




 Kadang hanya doa.




 Kadang hanya sapaan.




 Tapi semuanya datang dari tempat yang sama—




 Ketulusan.




 Ia tidak tahu apakah pesan-pesan itu pernah dibaca.




 Ia tidak tahu apakah Supiyah benar-benar melihatnya.




 Tapi ia tetap mengirim.




 Karena bagi Ari, ini bukan lagi tentang dibalas atau tidak.




 Ini tentang perasaan yang sudah terlanjur ada.




 ---




 Suatu sore, hujan kembali turun.




 Ari duduk di teras rumahnya, memandangi jalanan yang mulai basah. Bau tanah yang terkena air hujan memenuhi udara, membawa suasana yang entah kenapa terasa menenangkan.




 Di tangannya, ponsel kembali ia genggam.




 Ia membuka profil Supiyah.




 Lama ia menatap foto itu.




 Foto yang sama.




 Senyum yang sama.




 Tapi kali ini… perasaannya berbeda.




 “Kenapa ya…” bisiknya pelan.




 Ia sendiri tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini berubah.




 Dari sekadar tertarik…




 Menjadi ingin tahu…




 Lalu menjadi peduli…




 Dan sekarang—




 Menjadi sesuatu yang lebih dalam.




 Bukan sekadar kagum.




 Bukan sekadar penasaran.




 Tapi… rasa yang membuatnya ingin selalu dekat.




 Meski hanya lewat layar.




 Ari mengusap wajahnya pelan.




 “Ini aneh…” ia tersenyum kecil, tapi ada kegelisahan di baliknya.




 Ia tahu ini tidak biasa.




 Ia sadar betul perbedaan usia mereka.




 Dunia mereka berbeda.




 Jalan hidup mereka jauh tidak sama.




 Tapi entah kenapa… semua itu tidak cukup kuat untuk menghentikan perasaannya.




 Justru sebaliknya.




 Semakin ia mencoba memahami…




Lihat selengkapnya