Apakah aku salah mencintai wanita tua

Afandi
Chapter #3

**BAB 3: Keteguhan Hati**





 Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan.




 Tidak ada balasan.




 Tidak ada tanda-tanda bahwa pesan-pesan Ari benar-benar sampai ke hati seseorang di seberang sana.




 Namun yang aneh… Ari tidak lagi merasa seberat dulu.




 Seolah hatinya mulai terbiasa.




 Terbiasa berharap… tanpa harus menuntut.




 ---




 Pagi itu, langit tampak cerah.




 Ari duduk di warung kopi kecil dekat rumahnya. Secangkir kopi hitam mengepul di hadapannya, tapi sejak tadi belum juga ia sentuh. Tangannya sibuk dengan ponsel, seperti biasa.




 Ia membuka percakapan itu lagi.




 Percakapan yang isinya hanya satu arah.




 Dari dirinya.




 Untuk Supiyah.




 Ia menggulir ke atas, membaca pesan-pesan lama yang pernah ia kirim. Dari yang paling sederhana, sampai yang sedikit lebih dalam.




 Ari tersenyum kecil.




 “Kayak orang gila ya…” gumamnya pelan.




 Mengirim pesan berkali-kali… tanpa balasan.




 Tapi anehnya, ia tidak merasa bodoh.




 Tidak juga merasa sia-sia.




 Karena setiap kata yang ia kirim… selalu datang dari perasaan yang nyata.




 ---




 “Ri, ngapain sih dari tadi serius banget?”




 Suara temannya, Dika, memecah lamunannya.




 Ari langsung mengangkat kepala, sedikit kaget.




 “Eh… nggak apa-apa,” jawabnya santai.




 Dika duduk di depannya, menyipitkan mata curiga.




 “Main HP terus. Pacar ya?”




 Ari tertawa kecil.




 “Bukan.”




 “Terus?”




 Ari terdiam sejenak.




 Ia tahu, kalau ia jujur… mungkin Dika akan sulit memahami.




 Akhirnya ia hanya mengangkat bahu.




 “Cuma… teman.”




 Dika mengangguk, meski wajahnya masih penuh tanya.




 “Teman sampai segitunya?”




 Ari tidak menjawab.




 Karena ia sendiri tahu…




 Ini bukan sekadar teman.




 ---




 Sepulang dari warung, Ari berjalan pelan menyusuri jalan kampung. Angin siang bertiup hangat, membawa suasana yang tenang.




 Tapi pikirannya kembali dipenuhi satu hal—




 Supiyah.




 Ia mulai bertanya dalam hati.




 “Kenapa aku masih bertahan?”




 Pertanyaan itu sederhana.




 Tapi jawabannya… tidak mudah.




 Ia bisa saja berhenti.




 Menghapus kontak itu.




 Melupakan semuanya.




 Melanjutkan hidup seperti biasa.




 Tapi setiap kali ia mencoba berpikir seperti itu…




 Ada sesuatu dalam dirinya yang menolak.




 Seolah ada suara kecil yang berkata—




 “Jangan.”




 Ari menghela napas panjang.




 Lalu tersenyum tipis.




 “Mungkin… ini yang namanya tulus,” bisiknya pelan.




 Bukan tentang dibalas atau tidak.




 Bukan tentang memiliki atau tidak.




 Tapi tentang tetap ada… meski tidak terlihat.




 ---




 Malam kembali datang.




 Dan seperti yang sudah menjadi kebiasaan, Ari duduk di kamarnya, ditemani kesunyian yang sama.




 Ponsel kembali berada di tangannya.




 Layar kembali menampilkan nama yang sama.




 Supiyah.




 Kali ini, Ari tidak langsung mengetik.




 Ia hanya menatap layar cukup lama.




 Seolah ingin memastikan bahwa apa yang akan ia lakukan… benar-benar datang dari hatinya.




 Beberapa menit berlalu.




 Lalu akhirnya ia mulai menulis.




 *"Selamat malam, Bu."*




 Ia berhenti sebentar.




 Lalu melanjutkan.




 *"Hari ini saya kepikiran satu hal…"*




 Jarinya bergerak perlahan.




 *"Mungkin saya memang orang asing bagi Ibu. Dan mungkin Ibu merasa tidak perlu membalas pesan saya."*




 Ari menelan pelan.




 Ada sedikit rasa gugup.




 Tapi ia terus melanjutkan.




 *"Tapi saya ingin Ibu tahu… saya tidak akan berhenti hanya karena tidak dibalas."*




 Ia menarik napas dalam.




 Lalu mengetik kalimat terakhir.




 *"Bukan karena saya memaksa. Tapi karena saya tulus."*




 Pesan itu selesai.


Lihat selengkapnya