Apakah Kau Rumah?

Nenghally
Chapter #1

Apa Arti Keluarga?

Namaku Fatimah. Di sekolah, teman-temanku sering mengeluh tentang ibu mereka yang cerewet atau ayah mereka yang galak. Mereka bisa menghabiskan waktu istirahat hanya untuk menceritakan betapa menyebalkannya diinterogasi saat pulang terlambat, atau betapa pusingnya mendengar nasihat panjang lebar di meja makan.

Aku hanya diam menyimak, menyimpan rapat-rapat kenyataan pahit yang kupunya. Karena di rumahku, suara adalah barang mewah yang jarang dipajang.

Ibuku seorang penulis novel online. Hidupnya berpindah-pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, membangun dunia yang jauh lebih indah daripada ruang tamu kami yang catnya sudah mulai memudar.

Di dunianya, tokoh-tokoh ciptaannya saling mencintai dengan puitis, berdialog panjang penuh makna, dan selalu punya waktu untuk mendengarkan satu sama lain.

Ayahku seorang pekerja lapangan, seorang installer yang setiap hari memastikan koneksi di rumah orang lain lancar jaya. Lucu memang, dia ahli memastikan komunikasi dunia luar berjalan tanpa hambatan, meski koneksi di rumahnya sendiri sering kali mengalami gangguan teknis yang permanen.

Siang itu, aku pulang sekolah dengan seragam yang lembap oleh keringat. Matahari terasa sangat menyengat, membuat kepalaku sedikit berdenyut. Begitu membuka pintu, aroma pengharum ruangan jeruk yang mulai samar menyambutku.

Ibu duduk di sofa, kaki bersila, dengan bantal di pangkuannya. Di tangannya, ponsel dalam posisi horisontal.

"Aku pulang, Bu," kataku sambil mendekat, mencoba memberikan tanda kehadiranku.

Ibu menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang terasa sangat jauh. "Eh, Fatimah. Sudah pulang, Sayang?"

Aku meraih tangannya, mencium punggung tangannya yang terasa dingin, mungkin karena terlalu lama terkena hembusan kipas angin. Matanya hanya lepas dari layar ponsel selama tiga detik, lalu kembali terpaku pada deretan pria tampan yang sedang menari dengan lincah di layar.

Aku tahu itu video musik K-pop terbaru. Suaranya kecil, sengaja dikecilkan, seolah Ibu sedang menyembunyikan sesuatu yang terlarang. Aku tahu Ibu mencari pelarian di sana. Di antara wajah-wajah idola yang selalu tersenyum, Ibu seolah menemukan kehangatan yang tidak diberikan Ayah.

"Makanannya ada di bawah tudung saji ya," tambah Ibu tanpa menoleh lagi. Jempolnya sibuk menekan tombol like dan mengetik komentar dengan cepat di sebuah grup komunitas.

Lihat selengkapnya