Apakah Kau Rumah?

Nenghally
Chapter #2

Monumen Kegagalan

Rumah kami tidak pernah benar-benar berantakan seperti kapal pecah, tapi ia memiliki aroma yang khas. Aroma kemalasan yang dipelihara. Ibuku adalah ratu di dalam benteng ini, tapi dia ratu yang enggan mengurusi rakyatnya.

Sehari-hari, pintu depan rumah kami lebih sering tertutup rapat, seolah Ibu sedang melindungi sebuah rahasia besar di dalamnya agar tidak menguap keluar.

Pintu itu hanya akan berderit terbuka saat aku mengetuknya sepulang sekolah, atau saat sinar matahari sudah terlalu terik dan Ibu ingat ada cucian yang harus dijemur. Itu pun dilakukannya dengan terburu-buru, seolah-olah udara segar di luar sana bisa melukai kulitnya.

Begitu baju-baju itu kering, Ibu hanya mengangkatnya secara kasar, memasukkannya ke dalam keranjang plastik besar, lalu menaruhnya sembarangan di pojok ruang tengah.

Keranjang itu sudah seperti monumen kegagalan. Baju-baju kering itu menumpuk, kusut, dan tak pernah langsung menyentuh meja setrika. Kadang aku harus mengaduk-aduk tumpukan itu hanya untuk mencari sepasang kaos kaki atau seragam pramuka yang terselip di bagian paling bawah.

"Nanti Ibu lipat, Fat. Ibu lagi tanggung, ini bab-nya lagi seru," ucapnya tanpa menoleh, jempolnya masih menari lincah di layar ponsel.

Aku hanya bisa menghela napas. "Bab" yang dia maksud bisa jadi adalah draf novel yang sedang dia tulis, atau mungkin dia sedang tenggelam dalam kolom komentar komunitas digitalnya. Bagiku, kedua hal itu sama saja, mereka adalah pencuri perhatian Ibu yang paling ulung. Dunia di balik layar itu jauh lebih berwarna bagi Ibu daripada warna pudar gorden ruang tamu kami yang sudah setahun tidak dicuci.

Dapur kami pun sama saja. Wastafel sering kali penuh sesak oleh piring-piring kotor yang menggunung. Sisa saus sambal yang mengering di pinggir piring atau bekas lemak kuah sayur yang membeku menjadi pemandangan biasa. Ibu baru akan mencucinya jika piring bersih di rak benar-benar habis, atau jika Ayah sudah terdengar akan menginjakkan kaki di teras rumah.

Anehnya, Ibu sangat cekatan jika berurusan dengan dunianya sendiri. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam melakukan riset untuk tulisannya, mencari tahu detail terkecil tentang psikologi karakter atau setting tempat di luar negeri yang tak pernah dia kunjungi.

Lihat selengkapnya