Apakah Kau Rumah?

Nenghally
Chapter #3

Sebingkai Cermin Retak

Jika rumah ini adalah sebuah kapal, maka Ayah dan Ibu adalah dua nakhoda yang sibuk menambal lubang di sisi berbeda. Tanpa sadar, kapal kami sebenarnya sedang tenggelam pelan-pelan.

Ibu punya dunianya, dan Ayah? Ayah punya candunya sendiri. Aku hanya penumpang gelap yang hanya bisa melihat air mulai menggenangi mata kaki, tanpa tahu harus berpegangan pada siapa.

Bukan hanya soal kegilaan Ibu pada dunia K-Pop yang menjadi duri dalam daging di rumah kami. Ayah pun punya kebiasaan buruk yang dia rawat dengan rapi, seolah itu adalah tanaman hias yang butuh disiram setiap jam.

Di balik layar ponselnya yang sering memancarkan cahaya biru di sudut ruangan, Ayah tidak hanya sedang bermain gim perang atau sekadar membaca berita bola. Sering kali, dari pantulan kaca jendela, aku melihat jari telunjuknya mengetuk layar dengan ritme gelisah.

Matanya tidak berkedip, menanti putaran gambar atau angka yang muncul di sebuah situs berwarna mencolok dengan animasi lampu kelap-kelip yang norak. Judi online. Sebuah penyakit yang masuk lewat celah kebosanan Ayah, menetap di sana, dan mulai menggerogoti sisa-sisa kewarasannya.

Ibu bukan tidak tahu. Aku sering mendengar bisikan-bisikan tajam di dapur saat mereka pikir aku sudah tidur. Di tengah denting sendok dan piring yang dibiarkan kotor, Ibu akan menegurnya dengan suara tertahan, menuding layar ponsel Ayah dengan jari gemetar.

Namun, Ayah selalu punya tameng untuk membantah. Sebuah perisai kata-kata yang sudah berkarat, tapi tetap tajam.

"Cuma main kecil, Yang. Iseng saja, daripada bengong. Toh, nggak sampai jual-jual barang rumah, kan?" begitu dalih Ayah.

Suaranya selalu terdengar lebih tenang, tipe ketenangan yang justru membuat lawan bicaranya merasa kalah sebelum bertarung. Ia menggunakan pembenaran "tidak menjual barang" sebagai alasan untuk terus membuang uang yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki atap dapur atau sekadar mengajakku makan di luar sekali sebulan.

Ayah sudah mengucap janji lebih banyak daripada jumlah cicilan motor kami. Katanya, nanti kalau motor sudah lunas, dia akan berhenti total. Nanti kalau kontrak kerjanya di kantor diperpanjang, dia akan menghapus semua akun itu dan fokus pada keluarga.

Lihat selengkapnya