Apakah Kau Rumah?

Nenghally
Chapter #4

Sayuran Busuk

Beruntung bagiku, dunia di luar pagar rumah terasa jauh lebih berwarna. Di sekolah, aku bukan Fatimah si bayangan yang terjepit di antara dua ponsel dan satu ambisi semu. Di bawah atap sekolah yang berisik oleh tawa siswa, aku punya identitas. Guru-guru mengenalku sebagai siswi cemerlang yang selalu duduk di baris depan, bukan sebagai figuran dalam sebuah rumah yang dingin.

Aku selalu berusaha mendapatkan nilai sempurna. Namun, jika kau bertanya alasannya, jawabannya bukan karena aku ingin dipuji atau ingin masuk ke universitas ternama. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku masih "ada". Bahwa di balik seragam yang sedikit kusam ini, ada manusia bernapas yang prestasinya nyata, bukan sekadar deretan kata di aplikasi novel atau angka di situs taruhan.

Namun, lembar ujian dengan angka seratus di atasnya sering kali berakhir sebagai hiasan sunyi di atas meja makan yang berdebu.

"Bagus, Fat. Simpan saja dulu, nanti Ibu lihat kalau sudah update bab," ujar Ibu suatu hari. Matanya merah, kantung matanya menghitam, tapi jarinya masih menari di atas layar ponsel yang retak. Dia bahkan tidak benar-benar membaca judul mata pelajarannya. Dia tidak tahu apakah itu Matematika atau Fisika. Baginya, angka seratusku tidak lebih penting daripada jumlah viewers bab terbarunya.

Ayah lebih parah. Dia hanya melirik sekilas, mengangguk dengan gerakan mekanis, lalu kembali mengumpat. Layar ponselnya menampilkan grafik naik-turun yang mengerikan.

"Sial! Angkanya meleset lagi!" gerutunya.

Prestasi bagiku adalah sebuah pencapaian sunyi yang tak pernah dirayakan dengan pelukan. Mungkin karena itulah, beberapa tetangga sering menatapku dengan tatapan kasihan yang menyesakkan dada.

"Fatimah, kok badannya makin kurus saja? Kurang makan, ya?" tanya Bu RT tempo hari saat aku baru pulang sekolah.

Aku hanya bisa tersenyum kaku, sebuah topeng yang sudah mahir kupakai sejak lama. "Memang bawaan lahir, Bu," jawabku pelan.

Padahal, kenyataannya lebih pahit dari empedu. Di rumah ini, aroma masakan adalah kemewahan yang langka. Bau bawang yang ditumis atau harum nasi yang baru matang telah digantikan oleh aroma plastik terbakar dari kabel pengisi daya ponsel yang selalu tercolok.

Lihat selengkapnya