Padang Gurun Dinamarsirang — Planet Apeno
Langkah demi langkah, panas terik menghantam tubuh mereka tanpa henti. Jejak kaki tercetak jelas di atas pasir gurun yang tandus dan membentang tak bertepi, menandakan seseorang terus berjalan tanpa kenal lelah. Verto berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegak, meski terik matahari seakan berusaha meruntuhkannya. Ia bertahan, demi perempuan yang terbaring lemah di punggungnya.
"Ini sudah sangat jauh," suara perempuan yang terbaring di punggungnya terdengar lemah namun cukup tegas, meski punggungnya tertutup luka tebasan yang dalam. "Kita tidak akan dikejar prajurit manusia itu di sini. Bukankah kau sudah menghapus jejak kaki kita tiga jam yang lalu? Lebih baik tinggalkan aku."
Verto menjawab dengan nada datar, "Anda lebih baik diam saja, Putri Nakal."
"Aku Kaisar sekarang."
"Bagiku, Anda tetap seorang putri," sahut pria bermantel abu-abu itu. Ia mempererat genggamannya pada kedua kaki perempuan yang melingkar di tubuhnya.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hingga suara perempuan itu terdengar lagi — kali ini jauh lebih lemah. "Verto. Kau tahu, aku akan mati."
Verto tak menjawab.
Vertya mempererat cengkeramannya pada bagian belakang baju Verto, "Dan untungnya, aku belum mendengar nyanyian ibuku. Setidaknya... aku masih bisa menemanimu sebentar lagi."
Verto tetap diam.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu di sini. Aku tidak ingin kau menyaksikan kepergianku."
Verto mendengus pelan, "Justru karena itulah aku membawamu ke sini. Tempat yang sangat sulit dijangkau oleh bangsa Manusia. Lebih baik kau menghembuskan napas terakhirmu di sisiku, daripada kubawamu ke tempat yang aman — namun pada akhirnya tubuhmu tetap akan mereka temukan."
Kata-katanya terdengar kejam, sangat kejam jika didengar orang lain.
Namun Vertya justru tersenyum lemah.
Bagi mereka, ini bukan kejam. Ini adalah bukti bahwa Verto adalah sahabat sejatinya.
"Aku tidak tenang membiarkanmu menemaniku di tempat yang panas seperti ini," ujarnya tulus, "Dan aku merasa bersalah karena membebani sahabatku dengan masalahku."
Verto tak bersuara.
"Seharusnya kau meninggalkanku di sana dan menyelamatkan dirimu sendiri, Count Verto II."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Ella dan Pault pasti sangat mengkhawatirkanmu," lanjut perempuan itu dengan suara yang makin lemah. "Kau tahu betul bahwa waktuku tidak lama lagi."