Di kota yang langitnya sering kali kelabu oleh debu industri dan tanahnya masih menyimpan luka semburan lumpur panas yang tak kunjung padam.
Kehidupan yang Elsadina Arkadewi kira sudah berakhir karena harus pindah ke kota itu ternyata masih berlanjut karena sebuah kesalahpahaman. Berkat sungai air mata yang menetes dari lara para pendosa. Berkat perasaan yang membuatnya ingin jadi pembunuh keji yang melenyapkan seluruh manusia dari bumi.
Berkat semua hal busuk yang sama sekali tak pernah ia sangka akan mempertemukannya dengan sebuah cahaya. Bukan hanya cahaya redup yang dihasilkan oleh lampu dengan watt kecil yang hampir mati. Namun, cahaya yang jadi sumber kehidupan itu sendiri.
Entah bagaimana ia harus memantaskan diri untuk sebuah anugrah yang begitu besar. Untuk sebuah kebaikan yang tak pernah ia bayangkan. Terjadi dalam hidupnya yang kelam.
*
Di depan gerbang SMAN 1 Bangsa Sidoarjo atau yang lebih akrab dengan sebutan SMANZABA Sidoarjo. Seorang siswa kelas dua belas berdiri di atas sebuah motor tampak sedang menunggu sesuatu. Elsa dengan raut wajah datar dan langkah kecil menghampiri siswa itu.
“Apa sudah lama, Aldy?” Siswi itu bertanya sambil mencolek satu pundaknya.
Siswa itu merespon tanpa menoleh, “Tentu saja belum. Jam pulang sekolah kita kan sama.”
“ALDYYY!!!” teriak seorang siswa lain dari arah parkiran siswa sambil berlari menghampiri mereka.
“Ada apa, Dymas?” Elsa bertanya dengan wajah bingung. Ia juga khawatir gosip aneh akan berhembus di kalangan siswa sampai ia terlihat sedang bersama dua siswa elit itu di saat bersamaan. Ahh, ingin kabur saja rasanya, ia membatin.
Sambil tertawa cengengean siswa dengan potongan rambut undercut itu mengambil kunci motor dari lubang motor hingga mesinnya mati. “Hee hee hee, dasar kurang ajar,” tawanya renyah sambil menjitak batok kepala Aldy. PLTAK. Terdengar cukup menyakitkan meski raut wajah si korban tetap datar saja.
Tanpa mengatakan apa pun Aldy pun turun dari motor itu dan menyerahkan helm yang ia pakai pada Dymas. “Dasar pelit. Semoga kuburannya sempit.”
“Aku akan membunuhmu dan Val sampai seenaknya meninggalkanku lagi di kelas hanya karena aku ketiduran,” ancamnya sambil menjitak lagi kepala Aldy. Pltak. Kali ini hanya jitakan bercanda.
TIINN TIINN. Tiba-tiba sebuah mobil kecil empat pintu berwarna biru muda menyala berhenti di dekat mereka sambil membuat suara rusuh dengan bunyi klakson. “Hei, antek-antek miskin!” sapa siswa berseragam yang duduk di kursi kemudi dengan lantang sambil mengangkat satu tangan.