Terdapat beberapa siswa super eksklusif di SMAN 1 Bangsa Sidoarjo. Yang paling mencolok kerap disebut dengan sebutan Vladymas atau Valdymas yang diambil dari nama Vladimir yang berarti penguasa terkenal. Mereka adalah anak-anak yang sudah memberi banyak perubahan untuk kehidupan sekolah yang dulu membosankan. Berawal saat anak kelas dua belas tahun ini masih anak kelas baru kelas sepuluh. Sekitar lebih dua tahun lalu.
*
Elsa orang bodoh yang terjebak dalam perangkap sama. Elsa orang bodoh yang tak bisa mempertahankan dan memanfaatkan apa yang dimiliki. Bahkan Elsa orang bodoh yang mengharapkan sesuatu yang jelas takkan pernah terjadi.
Tidak perlu ragu mengataiku bodoh. Orang-orang pertama yang mengatakannya adalah keluargaku sendiri. Menghilangkan seluruh harga diriku. Dan mereka merasa baik.
“Kelasku tadi ulangan Kimia. Masa si Afifah nanya terus. Maksa lagi. Nggak tau apa Pak Made guru killer,” curhat Zaskia berapi-api. Dimasukkan lima sendok bon cabe level sepuluh ke baksonya.
“Terus gimana?” tanya Elsa.
“Kan dia maksa terus. LJK-ku kututupi dan bilang dia untuk mengerjakan sendiri. Masa dia ngancem. Ngomong begini, lihat nanti. Nyebelin banget gak, sih?” lanjut Zaskia.
“Padahal sama anak-anak lain sikapnya biasa aja. Tapi, sama teman sebangkunya sendiri begitu, ya,” komentar Nila.
“Muka uler tuh anak emang,” cecar Zaskia.
Hadeeeh, kalian ini sukanya ngomongin kejelekan orang aja, batin Elsa.
“Emang nyebelin kalau ada orang di depan orang lain baik. Tapi, di depan kita busuk. Terus orang banyak lebih banyak lihat dia baiknya. Padahal busuknya cuma dilihatin ke kita,” ucap Alif.
“Orang-orang muka uler itu enaknya diapain, ya?” tanya Nila memotong baksonya menjadi empat bagian.
“Dimasak,” jawab Elsa dengan emosi seadanya. Ia benci menggunjingkan orang lain. Tapi, jika itu yang harus ia lakukan utuk mendapat kehidupan normal…
“Korosif peralatan masak kesayanganku nanti,” cecar Zaskia lagi.
“Hari Minggu nanti masak di rumah Zaskia, yuk,” ajak Elsa berusaha menghentikan topik gunjingan mereka.
“Masak apa?” tanya Nila.
“Camilan. Kalau sukses bisa coba titipin di kantin,” usul Elsa lagi.