Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #6

5: Pengungkapan

Di antara teman-temannya ia hanyalah bystander. Seseorang yang mengamati, namun tak melakukan apa pun. Ketika ada kesempatan bicara, ia akan berbicara seadanya. Ia tak bisa seperti Nila, Zaskia, maupun Alif yang aktif. Ia sudah merasa cukup beruntung dengan memiliki mereka. Ia tak mengharapkan apa pun lagi. Seperti pacar misalnya.

Berbeda dengan anak lain. Ia ke sekolah dengan berjalan kaki disambung kendaraan umum. Pulangnya jalan kaki. Ada banyak faktor penyebab gaya hidup yang menurut teman-temannya aneh itu. Salah satunya… HIDUP HEMAT dan cinta lingkungan.

Tiin tiin. Klakson motor Nila berbunyi tepat di belakangnya.

“Hebat. Tumben pagi sekali kamu berangkat sekolah,” puji Elsa.

Nila menyeringai. “Ngeledek, ya. Buruan naik!”

Sepanjang perjalanan ke sekolah Elsa mengintrogasi alasan si tukang telat berangkat sepagi ini.

“Modus apa kamu?”

“Dymas itu ternyata selalu datang pagi untuk belajar di perpustakaan. Aku pengen… memperhatikan dia dari jauh,” jawab Nila bahagia menuturkan alasannya rela berangkat sepagi itu. Baru pukul lima.

“Wah, hebat juga anak itu. Aku nggak sadar.”

“Kamu sendiri kenapa selalu berangkat sepagi ini?”

“Aku suka suasana sekolah saat masih sepi.”

“Dymas dan Aldy walau kelas MIPA masuk kelas spesial. Kita sampai jarang papasan sama mereka. Eksklusif banget, ya,” ucap Nila semangat.

Elsa tersenyum. “Iya, keren banget.”

Cih, keren apanya. Biasa aja, lanjutnya dalam hati dengan tampang datar.

*

Sesampainya mereka. Sekolah masih sangat sepi. Nila memaksa Elsa menemaninya mengamati dari jauh kalau tidak mau disebut menguntit.

Lihat selengkapnya