Jujur saja aku ini bukan orang yang mudah dihipnotis. Waktu masih tinggal di Jakarta saja aku pernah nyaris jadi korban kejahatan hipnotis. Tapi, karena tidak mempan dan malah berakhir aku permainkan, penjahatnya bisa dengan mudah tertangkap.
Hal itu buat aku jadi sedikit skeptis pada hal-hal berbau metafisika. Pria bernama Gustav kemarin pasti master of the master hipnosis.
Asyik berpikir soal hipnosis aku baru ingat kalau lupa belum kerjakan tugas yang dikumpulkan hari ini. Untung aja aku biasa datang pagi. Waktu satu setengah jam pasti cukup untuk mengerjakannya di perpustakaan.
Cklek cklek cklek.
Masih terkunci, ya. Bagaimana anak itu bisa ada di dalam. Elsa melongok ke dalam perpustakaan lewat celah gorden di jendela. Dymas sedang asyik belajar, membaca buku, atau hanya buang-buang waktu, entahlah. Ngerjain di kelas aja, deh. Tidak usah pakai referensi, putusnya berusaha memudahkan.
Klek. Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka dari dalam.
“Ada apa?” tanya Dymas.
Waaahhh… Aku berhadapan dengan seorang Valdymas. Ini mimpi atau bukan? Sebenarnya aku tidak begitu antusias pada anak ini maupun dua temannya yang lain. Tapi, dilihat dari dekat, dia memang ganteng banget, ya.
“Aku ingin mengerjakan tugas,” jawab Elsa tegas.
Dibuka pintu semakin lebar. “Tentu boleh. Perpustakaannya juga bukan punyaku.”
“Oh, metursuwun,” ucap Elsa santun.
Sambil membolak-balik halaman buku referensi dan memindahkan ke jurnal tugas, Elsa tak tahan untuk memulai percakapan dengan Dymas. Walau dia memasang raut tak mau diganggu setiap sedang belajar pagi.
“Anuu, maaf… kamu…”
Pas udah ngomong malah lupa mau ngomong apa. Kampret.
“Perpustakaan buka jam delapan. Aku dapat izin khusus menggunakannya sebelum itu untuk persiapan pelajaran yang aku lewatkan karena turnamen yang aku ikuti di luar sekolah,” jawab Dymas datar, “Juga untuk penunjang kebutuhan pelajaran sehari-hari.”
Waaah, asli, sih. Aku bisa bicara sama Dymas? Ini nyata, ’kan? Rasa hati jadi pengen sombong.
Cih, ternyata aku sama aja kayak mereka.
“Kamu… hebat sekali, ya,” komentar Elsa.
“Hebat kenapa?” tanya Dymas datar.
Elsa menjawab, “Kamu tahu sendiri kan bagaimana pamormu di kota ini. Ternyata rajin belajar juga. Seperti seseorang yang tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan orang banyak. Sayang…”