Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #8

7: Val

Awal pindah ke Sidoarjo aku harap bisa lebih ”njawa”. Kebetulan aku lumayan bisa bicara bahasa Jawa, sih. Walau tidak jago jago banget. Saat masih di Jakarta itu hanya akan jadi guyonan. Itu kenapa aku ingin tinggal di suatu tempat di mana aku bisa berbahasa Jawa dengan logat Jakarta tanpa ditertawakan.

Dan ternyata tempat seperti itu tidak ada. Di kota kecil seperti Sidoarjo pun para warganya akan bicara dalam bahasa Indonesia Suroboyoan. Aku akan ditertawakan tiap coba bicara menggunakan bahasa Jawa. Orang-orang di sekelilingku akhirnya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia.

Sebentar! Aku mikirin hal gak penting gitu buat apa, sih? Kayaknya efek bicara dengan Dymas belum berakhir. Rasanya kayak mulia sekali (hanya delusi) bisa mengobrol sama salah satu Valdymas.

Ketika pikiran gadis itu sibuk melanglangbuana ke mana-mana memikirkan Dymas. Ujung matanya tiba-tiba menangkap pemandangan sesosok yang ia kenal sedang dikerubungi cewek berpenampilan cabe-cabean di pasar kaget GOR Sidoarjo.

Demi apa? Itu kan… gawat, dia melihat aku. Aku masih pakai seragam lagi. Segera ia lepas blazer hitam sekolahnya.

“HEI!” teriak Val. Berjalan mendekat. “Tumben ada anak Smanzaba di sini jam segini.”

Tubuh Elsa langsung mengerucut. Gemetar takut. Val yang orang kira tidak neko-neko ternyata sangat neko-neko. Temenannya saja dengan cewek-cewek seperti mereka. Sangat jauh dari kesan elegan.

Dan… coba lihat gayanya! Jeans belel sobek-sobek. Kaus hitam bergambar tengkorak dan tulisan grafiti nggak jelas. Sepatu kets jelek murahan yang pasti beli di pinggir jalan.

Lihat selengkapnya