Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #9

8: Pertemuan

Pergi ke sekolah setara menyeburkan diri ke lautan masalah. Pukul lima pagi ia tak langsung masuk melewati gerbang Smanzaba. Ia pergi ke halte di depan SMKN 1 Buduran dan duduk di sana menunggu pagi lebih cerah.

Sudah aku duga. Keajaiban yang ganjil seorang Elsa yang sangat biasa ini dapat berbincang dengan Valdymas yang sangat mulia. Semua ini pasti awal sebuah bencana. Aku tidak tahu apa yang Dymas pikirkan soal pertemuan kami pagi itu. Untuk Val, ia masalah utama. Val selama ini memang terkesan anak kalem saja, tapi dialah pentolan Valdymas. Dengan instruksinya, meminta satu sekolah memusuhiku perihal mudah.

Ya Gusti.

Resolusi tahun ajaran baru pokoknya Elsadina Arkadewi tak boleh bermasalah dengan Aldy. Sampai bermasalah dengan dia juga, tamat sajalah riwayatku.

*

“Tau dari mana?” tanya Alif.

“Dari anak IPS 2. Ada yang yakin banget dia menulis ahli botani sebagai jawabannya. Kasihan sekali anak salah jurusan semacam itu,” jawab Zaskia.

Kasihanilah teman dekatmu sendiri, Zas. Aku yakin menulis ballerina, pianis, atau komposer, batin Elsa nelangsa.

“Sesi konseling maksudnya apa?” tanya Nila.

“Ya pembahasan sama mas-mas kemarin. Yang masuk ke kelasku ganteng, euy. Namanya Budi,” gembor Zaskia, ”Kuharap dia Budi Do Re Mi, ha ha ha.”

“Gak penting banget, sih. Bahas keinginan terdalam sama orang yang kenal juga nggak,” protes Nila.

“Apa kamu kenal setiap dokter yang kamu datangi?” tanya Elsa serius.

Ketiga temannya terdiam. Melanjutkan obrolan dalam topik lain.

Lagi-lagi aku mengatakan hal yang buat suasana jadi tidak enak. Bodohnya aku, batin Elsa menyesal.

“Balik, balik, bel masuk akan berbunyi!” beritahu Nila mendorong punggung Zaskia dan Alif ke kelasnya masing-masing.

*

Di tengah pelajaran. Nila tak lagi tahan mencari tahu penyebab wajah muramnya sejak pagi.

“Kamu kenapa, sih?” tanya Nila.

“Menurutmu Val itu anak yang bagaimana?” tanya Elsa.

“Cieh, mulai naksir, ya,” tebaknya jahil.

“Nggak. Penasaran aja,” jawab Elsa dingin.

“Seperti yang kita lihat aja. Dia itu pinter banget. Baik, ramah, santun, sopan, elegan, berasal dari keluarga terpandang. Pokoknya good quality,” jawab Nila yakin.

Semua kok kayak kebalikan penampilannya kemarin, batin Elsa lagi. “Pacarnya siapa?” ia bertanya.

“Anak sekolah ini, kok. Tapi, ya namanya selebritis, pacarnya dirahasiain, dong. Nanti dicakarin lagi sama penggemarnya,” jawab Nila.

Kasihan banget ceweknya, batin Elsa.

“Kenapa? Tumben kamu nanya-nanya soal begituan,” tanya Nila balik. Penasaran. Pasalnya Elsa bukan siswi yang biasa kepo masalah seperti itu.

“Salah satu dari mereka adalah eksekutorku,” jawab Elsa dengan tampang ketakutan.

Nila langsung mengerutkan alis. “Wut?”

*

Sepulang sekolah. Anak-anak diminta tak langsung pulang. Mereka akan mendapat hasil dan konseling dari para hipnoterapis. Sebagian besar anak kecewa karena mengira sesi akan dilakukan dengan memotong jam pelajaran.

Kelakuan.

Seorang guru magang menghampiri kelas 12 MIPA 1 membawa secarik kertas. “Excuse me. Siswi bernama Elizabeth dipanggil ke ruang BP, ya,” beritahunya.

“Hayolhooo!” kata Nila menakut-nakuti.

Elsa meninggalkan barisan antrian teman-teman kelasnya. Mengikuti langkah si guru magang. Ya Allah, desahnya dalam hati.

Ada beberapa kemungkinan BP sampai memanggil siswi biasa sepertinya: Valdymas ngadu, Valdymas ngarang, Valdymas… apa saja. Pasti berhubungan kejadian para Valdymas kampret itu.

Lihat selengkapnya