Satu-satunya alasan Elsa gemar berangkat pagi adalah: ia benci di rumah. Orang tuanya menitipkan kalau tidak mau disebut membuang dirinya pada kerabatnya. Kehidupan penuh kepalsuan yang ia jalani hanya sedikit cara yang ia upayakan untuk menutup gerbang neraka dunia.
Banyak hal buruk terjadi dalam hidup kita. Kita terus hidup untuk menunggu apakah akan terjadi hal baik pada akhirnya.
Melewati bawah fly over depan sekolah, bulu kuduknya meremang. Firasatnya sangat jelek saat wajah seorang Valdymas muncul di kepalanya. Dan Valdymas yang muncul jelas bukan Aldy yang ramah atau Dymas yang pemalu. Tapi, Val.
Dihalau pikiran buruknya. Dimasuki sekolah seperti biasa. Melewati perpustakaan, Dymas sudah tenggelam dalam rutinitas. Ia mulai tinggi hati berpikir hubungan mereka cukup dekat untuk membiarkannya menanyakan sikap Val di Royal Study Room mereka.
Masuk… Enggak… Masuk… Enggak… Masuk… Enggak…
“Kamu Elsa?” tanya sebuah suara di belakangnya.
Tanpa menunggu jawaban, pemilik suara itu menarik pergelangan tangannya menuju tempat pengolahan sampah di belakang sekolah. Waktu menunjukkan pukul lima pagi kurang tujuh menit.
Di hadapannya, seorang siswa rapi memojokkannya. Penampilannya elegan dengan seragam lengkap ditambah blazer hitam. Terlihat persis seperti Angga di ruang BP tempo hari. Kecuali aroma parfum Hermes 24 Faubourg yang mencolok menguar dari tubuhnya.
Penampilan siswa pemakai parfum yang hanya ada 1000 botol di dunia sangat tak pantas bersanding dengan pisau lipat preman pasar.
Bentar, ini kan parfum…
Ia berusaha tetap tenang.
“Kamu mau apa, Val?” tanya Elsa.
“Aku ingin membunuhmu. Atau melakukan apa saja yang membuatku yakin kamu takkan mengatakan apa pun soal yang kamu lihat kemarin.”
“Kelihatannya hal besar. Tentu saja. Kamu Valdymas. Ngomong-ngomong, cabe-cabean kemarin apa tahu siapa kamu sebenarnya? Ah, bukan yang sebenarnya. Tapi, jubah kepalsuanmu.”
“Tutup mulutmu sebelum kupotong lidahmu!”
Elsa tersenyum sarkastis. “Potong saja. Setelah itu akan kubuat kamu memotong lidah lebih banyak manusia. Sayangnya, kamu takkan bisa. Dasar penipu.”
“Diam! Pokoknya lihat saja. Sampai mulutmu ember, akan…”
“Irfan!” teriak Dymas dari jalan menuju gedung sekolah. “Ngapain kamu?” Didekati Elsa. Dijauhkan dari Val. “Sudah kubilang. Kendalikan emosimu. Jangan senggol bacok begini. Sama perempuan lagi,” nasihat Dymas. Berusaha melindungi Elsa di belakang punggungnya.
“Aiiish, jangan sok hero, deh. Dia itu siswi yang mergokin penampilan asliku. Kamu mau tanggung jawab sampai terjadi sesuatu? Apa aku bicara sama kepala sekolah untuk mengeluarkannya saja?” pikir Val.
Nah, ini dia yang kutakutkan. Lagian tadi aku mikir apa sih bisa sampai ngomong sok keren gitu? Gawat, gawat, gawat! Masa depanku terancam hancur, deh.
“Tenang saja. Aku yakin dia gak akan melakukan hal berbahaya.”
Diarahkan ujung pisaunya ke wajah Dymas. “Aku sudah memperingatkan. Sampai terjadi sesuatu, akan kuhabisin dia,” ancamnya. Kembali ke gedung sekolah.