Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #12

11: Angga

Royal Canteen.

“Kita sudah diberi kelas khusus dengan fasilitas sepuluh kali lipat timbang kelas biasa. Kantin khusus dengan makanan home made yang nutrisinya terjaga. Tapi, tidak dengan perpustakaan khusus dengan koleksi selengkap perpustakaan umum. Sekolah ini benar-benar tidak adil,” gerutu Dymas. Sibuk memotek-motek kue keju di atas piring kecil sampai tak berbentuk.

“Ngeluh aja sih ini anak nggak ada bersyukur bersyukurnya,” respon Val ikutan mengeluh. Ia tarik kue keju Dymas yang bentuknya sudah tidak jelas ke hadapannya.

“Iya, nggak adil,” ganti Aldy merespon dengan lebih kalem. Ia hanya menatap kue keju miliknya. “Aku sempat berpikir sistem kasta begini hanya satu semester atau satu tahun. Ternyata sampai lulus.”

“Kalian depresi karena nggak bisa menjalani kehidupan sekolah menengah atas kayak siswa pada umumnya. Apa menyesal?” tanya Val.

Baik Aldy maupun Dymas terdiam.

Val berkata lagi, ”Ini sudah digariskan. Bagaimanapun juga Valdymas merupakan figur publik yang dikendalikan opini masyarakat. Nggak usah berdebat. Tahun depan juga kita sudah lulus.”

“Kalau orang tua Val kan pejabat daerah. Bagaimana dengan orang tua Dymas? Kok rasanya aku belum pernah dengar soal itu,” tanya Angga berusaha mengalihkan topik.

“Kamu sih belajar terus. Hal begitu saja tidak tahu,” cecar Val.

“Aku belum pernah bilang, ya? Orang tuaku itu eksekutif perusahaan. Tidak terlalu penting, sih. Tidak seimpresif orang tua Val atau Aldy yang… pejabat pemerintah.”

“Perusahaan apa?” tanya Aldy serius.

Dymas mendadak bingung. Segera ia alihkan pandangan pada kue keju Aldy yang masih utuh. “Darf ich das hole? (Boleh saya ambil ini?)”

“Silahkan,” jawab Aldy ganti mengalihkan pandangan ke luar jendela.

“Buat apa sih nanyain itu? Nggak penting banget,” cecar Val, “Emang HRD apa kamu?”

“Hei, hei, sudah. Aldy pasti punya alasan menanyakannya. Maaf aku tidak bisa memberi jawaban yang diharapkan.”

“Apa yang kamu tulis saat sesi hipnotis?” tanya Val. Dymas di antara mereka hanya bisa menepuk kepala saat kedua temannya mulai bersitegang.

“Entahlah.”

“Pasti sesuatu yang cukup gawat kalau sampai dipanggil Bu Kholifah.”

“Sebentar lagi kamu juga akan dipanggil karena nodong siswi di sekolah.”

Val vs. Aldy: CRIIING!

“Bro, bro,” panggil Dymas dengan logat Jawa kental. “Ojo nesu tha. Mumet aku nek ngene ki (Jangan marah-marah, lah. Pusing aku kalau begini ini).”

“Maafkan aku, Val. Aku sedang emosi.”

Woran denken Sie? (Apa yang kamu pikirkan?)” tanya Val heran. Emosi adalah momen langka untuk seorang Aldy.

Ich bin nicht sicher (Aku tidak yakin).”

Aldy terdiam. Gejolak hebat tiba-tiba terasa membuatnya ingin memuntahkan semua isi perut. Ditambah perih dari luka-luka baru di balik seragam kusamnya. Mengingatkan apa yang baru saja terjadi.

*

Plaaak.

Lihat selengkapnya