RSUD Sidoarjo.
“Hari ini kamu datang sendiri?” tanya Dokter Liana. Menurut surat rujukan sekolah, Elsa dan Angga adalah satu paket yang harusnya selalu kontrol bersama. Seperti setiap paket makanan Hoka Hoka Bento yang tidak lengkap tanpa salad juga mayonesnya.
“Sekarang Angga lagi pergi ‘berjihad’ ke Jakarta demi sekolah kami, Dokter. Ikut lomba debat di kedutaan Jerman dia,” beritahu Elsa dengan intonasi datar. Wajahnya menunduk.
“Oh, begitu,” respon Dokter Liana tenang. Ia mulai melontarkan pertanyaan, “Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“Saya tidak merasa ada yang aneh dengan kehidupan saya. Semua normal-normal saja,” jawab Elsa.
Walau terlihat sangat menjaga sikap demi tetap terlihat normal. Di mata seorang ahli kejiwaan, badai besar yang sedang mengamuk dalam diri gadis itu tampak sangat jelas.
“Kalau kamu tidak mau jujur. Saya tidak akan bisa membantu kamu, Elsa,” beritahu Dokter Liana.
Elsa menegakkan posisi duduk. Antara tegang karena tidak mau dipandang sebelah mata. Juga perasaan ingin lebih dimengerti. Ia menjawab, “Masalahnya tidak ada yang perlu Anda bantu dari saya, Dokter. Apa bisa Anda buat saja surat keterangan bahwa kondisi saya sehat wal’afiat dan segera selesaikan ini semua? Sepertinya guru sekolah saya memang berlebihan saja,” pintanya.
“Tidak bisa begitu, dong,” respon Dokter Liana langsung.
“Jika Angga… apa dia menceritakan yang Dokter minta?” tanya Elsa. Agak ragu.
“Tentu saja. Dia sangat dan selalu kooperatif,” jawab Dokter Liana, “Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Elsa menundukkan wajah. Menatap kedua dengkul yang gemetar. Tak yakin pada apa yang sedang ia pikirkan.
Tapi, beberapa hal selalu membutuhkan keberanian agar diungkapkan. Ia pun berkata, meminta tepatnya, “Apa bisa… saya minta tolong Dokter membocorkan sedikit saja tentang dia? Saya… maksud saya teman-temannya di sekolah sangat khawatirkan. Dokter kan tau sendiri latar belakang kami itu bertolak belakang.”
Dokter Liana tersenyum lembut. Tak mengucapkan sepatah kata pun. Melihat Elsa dengan tatapan yang sulit diartikan.
*
“Hallo, partnerku,” sapa orang “tidak jelas” di seberang sambungan.
Elsa menerima panggilan telepon dalam perjalanan pulang. Setelah naik angkot dari RSUD Sidoarjo, ia turun di perempatan Ramayana dan berjalan kaki sampai tempat ia tinggal di daerah belakang GOR Sidoarjo.
Jarak aslinya sekitar dua kilometer. Namun, untuk kakinya yang biasa diajak hidup susah sehat. Jarak segitu hanya terasa seperti dua puluh meter saja.
“Partner apa lagi?” tanya gadis itu sinis.
“Partner in crime,” jawab remaja laki-laki di seberang.
“Bagaimana lombanya?” tanya Elsa tidak peduli pada pancingan Angga.