Keesokan harinya datang bagai sebuah penantian panjang. Ia rasakan perasaan aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya. Aldy, seorang bintang: rupawan, populer, punya banyak teman. Kenapa ia katakan hal yang bisa membuat gadis buruk rupa sepertinya salah paham?
“Dia pasti hanya mempermainkanmu.”
"Kamu itu hanya gadis bodoh yang tak mungkin dicintai lelaki mana pun."
"Ayahmu saja lebih memilih merawat anak haramnya dengan seorang pelacur timbang dirimu."
“Tidak ada laki-laki baik di dunia.”
“Dia hanya menganggapmu partner yang menutupi kebobrokannya.”
“Ingatlah. Saat permata dan batu kali berdampingan. Semua keburukan akan ditimpakan pada si batu kali.”
“Ia akan menyerap seluruh cahayamu.”
“Jangan temui dia lagi!”
“Aaakh,” erangnya sembari mencengkram dahi saat sedang sarapan di meja makan bersama beberapa kerabatnya yang lain.
Namun, tak seorang pun peduli. Menanyakan keadaan apalagi. Seolah apa pun kesakitannya hanya angin lalu.
Dan ia telah lelah untuk meminta. Lelah untuk berharap.
*
Elsa turun angkot sebelum jembatan layang. Memang spot turun angkot untuk anak-anak yang bersekolah di sekitar sana.
Celakanya ia melihat seseorang yang tak ia harapkan muncul di hadapannya sepagi itu. Dipercepat langkahnya tanpa menggubris keberadaan si remaja.
“Kenapa kamu selalu datang sepagi ini?” tanya Dymas. Mengejar.
“Bukan urusanmu,” balas Elsa. Tetap fokus berjalan.
Dymas membalas, “Urusanku, dong. Nggak banyak perempuan yang bisa buat aku keluar perpustakaan hanya untuk menjemputnya.”
“Maaf, aku nggak tertarik sama kamu,” balas Elsa tegas.
“Terus tertariknya sama siapa? Sama Aldy?”
“Bukan urusanmu, ya.”
“Ceritaku kemarin belum selesai. Akan kuceritakan perkara lain soal dia yang akan buat kamu berpikir ulang tentang semua hal.”
“Stop! Aku gak butuh masukan sana sini hanya untuk berspekulasi. Aku akan melihat dan membuat penilaian soal kalian dengan mata dan pikiranku sendiri.”
“Silahkan aja. Tapi, kebenaran hanya satu.”
“Dan akulah yang akan memutuskannya.”
“Mau ke mana kamu?” tanya Dymas. Menarik ransel pink Elsa. “Ayo kita ngobrol dulu di perpustakaan. Ini masih belum jam lima.”