Jarum pendek dan panjang di jam tua berwarna hitam yang terpasang di dinding kamar sederhananya menginjak angka dua belas. Langit gelap. Usai mengerjakan beberapa tugas sekolah yang akan dikumpulkan besok, ia berencana beristirahat.
Namun, tiba-tiba gawainya berdering rusuh menandakan panggilan. Sialnya si pemanggil sama sekali tak merasa berdosa karena mengganggu anak orang tengah malam.
“Aku sudah sampai bandara, nih. Nelpon pakai telpon umum. Untung masih ada beginian di zaman sekarang, ya. Kalau tidak ada aku pasti akan sangat kebingungan bagaimana cara memberitahu pacarku tersayang.”
“Dy, first thing first, kita tidak pacaran. Kedua, kamu bisa lihat jam atau tidak?” tanya Elsa kesal.
“Biarin aja. Sengaja kok pengen segera mengobati rindumu. Pasti seharian nggak bisa konsen ke pelajaran karena mikirin aku. Iya, ’kan?” tanya Aldy super percaya diri sambil mengibas-ngibaskan poni rambut. Berlagak jadi remaja paling ganteng sejagat raya.
“Tanpa mikirin kamu juga aku nggak pernah konsen belajar,” jawab Elsa datar seraya menutup kedua mata menggunakan lengan bawah.
“Ahahahaha, jujur amat, sih. Aku suka cewek yang nggak jaim kayak kamu,” balas Aldy sumringah. Dari intonasi suaranya yang meriah ia terdengar sedang sangat cerah.
Tidak selera mendengar gombalan jamuran semacam itu tengah malam. Elsa bertanya, “Sudah hubungi Valdymas?”
Di seberang sambungan, Aldy yang sedikit kecewa pada respon datar gadis itu menjawab, “Buat apa menghubungi cowok tengah malam begini? Aku bukan maho.”
Karena lawan bicara terdiam cukup lama. Aldy kembali berkata, “Kenapa? Kok diam? Terlalu senang, ya? Merasa ini mimpi? Oh, tenang saja, Nona Elsa. Tuan Muda Aldy yang menghubungi kamu tengah malam begini sama sekali bukan imajinasi. Aku nyata. Senyata cerita cinta kita berdua. Hiiiyyaaa… HAHAHA!!!” Ia malah tertawa sendiri. Seperti orang gi…
Semoga tidak ada orang waras di dekat anak itu, doa Elsa. “Sudah, sudah. Tidur dulu baru bermimpi, Dy,” pintanya.
Aldy yang sedang di bandara, “Huu, masa begitu doang, sih.”
Elsa kembali berkata, ”Besok… kamu masuk sekolah tidak? Apa dapat dispensasi dari sekolah?”
Ia mulai mendudukkan tubuh di tepian kasur. Menunggu jawaban dengan hati resah. Masuk tidak, ya?
Remaja laki-laki di seberang menjawab, “Kalau bangun ya aku akan sekolah. Kalau habis shalat Subuh tanpa sadar ketiduran ya nggak sekolah. Begitu saja, sih. Aku kan Mr. Simple.”
Nyebelin banget ini orang, batin gadis itu. Ia kembali berkata, “Masuk, dong. Kamu kan… harus cepat ke Dokter Liana. Kalau terlalu lama mengambil jeda nanti jadwal kontrol kita… malah dibedakan, lho,” balas Elsa.
Sementara remaja laki-laki di seberang melengkungkan senyum kecil. “Aduh, kok malah jadi ngomongin dokter jiwa, sih.”
Elsa membalas, ”Ya karena untuk orang lain jiwa kita memang tidak normal, Dy. Menurut saja, deh. Jangan sampai sekolah sampai berpikiran macam-macam.”
”Demi yang nggak mau kontrol sendiri. Akan aku usahakan, deh,” jawab Aldy pada akhirnya. Menangkap niat sesungguhnya si gadis.