Aku gak mau drama ini sampai berubah genre jadi horor atau thriller. Aku harus memperbaiki mood sebelum masuk sekolah, tekad Angga.
Tapi, sejak tadi ia merasa orang-orang yang ia lewati sepanjang jalan menatapnya seolah sedang menonton film horor. Mulai dari pejalan kaki yang berjalan di trotoar sepertinya. Para pedagang sarapan yang berjualan nyaris di sepanjang jalan. Sampai para pengendara motor dan angkutan umum yang kebetulan lewat saja.
Ah, mereka pasti tidak sedang melihatku, pikirnya berusaha berbaik sangka. Tetap melangkah percaya diri menuju sekolah.
*
Namun, sesampainya di tempat tujuan pun respon yang ia dapat tetap sama. Semua orang menaruh perhatian padanya dengan cara tidak biasa. Sesekali melihat ke orang di dekatnya dan mulai berbisik membicarakan sesuatu.
Mereka semua sebenarnya kenapa, sih? Aku masih waras, ‘kan? Ini masih dunia normal, ‘kan? Come on!
Tanya hanya bisa terlontar dalam dada. Tak mampu ditransformasikan menjadi kata.
Padahal Angga sudah berusaha jadi Valdymas paling tidak mencolok. Valdymas yang cukup menang nilai. Valdymas yang paling anti terkena lampu sorot sosial.
Ia benci diperhatikan karena hal yang tak ia pahami.
“Angga, Angga, Angga, ssszhh!” desis Elsa dari belakang gedung guru.
“Jangan sekarang, ya,” balas Angga datar. Entah kenapa tidak selera menjawab panggilan gadis yang namanya saja memenuhi kepalanya sepanjang malam.
Tanpa memikirkan respon Aldy, Elsa langsung menarik pergelangan tangan remaja laki-laki itu ke tempat tersembunyi, “Emang kamu pikir lho aku mau ngapain? Itu rambut kamu kenapa?”
Aldy mengernyitkan alis mendengar pertanyaan tak masuk akal itu sepagi ini. “Ngomong apa, sih?”
“Aku tahu kamu Valdymas, Angga. Tapi, ada batas toleransi moral dan etika berpenampilan di sekolah,” ucapnya fasih. Berusaha terdengar lebih serius.
“Baru juga aku sampai malah sudah diceramahi hal yang tidak aku mengerti. Memang rambutku kenapa?” tanya Angga malas. Ia lepas topinya. Diusek-usek kepalanya. Ssskk sskk sskk.
Ctik. Elsa mencabut sehelai rambut Angga yang berwarna putih. Menunjukkan di depan hidung mancung remaja itu.
Sepasang matanya terbelalak tak percaya. Angga hanya, what the…
*
Royal Study Room.
Kedua temannya pun tak bisa berkedip menatap penampilan barunya.
“Apa yang kamu lakukan dengan rambutmu, Aldy?” tanya Akutagawa Sensei tak kalah terkejut. Baru pertama kali ia lihat ada muridnya seperti ini sepanjang hidup.
“Itu namanya bleaching, ‘kan?” tanya Dymas, “Menghilangkan pigmen rambut sebelum diwarnai. Rambutnya jadi seperti beruban. Buat apa kamu melakukan hal kayak gini saat hari sekolah, sih?”
“Bleaching. Tahu aja kamu begituan,” ledek Val.
Ia kembangkan senyum paling berkilaunya. Menjawab, “Sepertinya ada yang iseng dengan kepala saya tanpa saya sadari, deh. Kebetulan saya belum bercermin sama sekali sejak kemarin karena beberapa alasan. Mungkin terjadinya waktu di Jakarta. Iya, pasti di sana.”
“Bu Andini tidak mengatakan apa pun soal kondisi rambut kamu sampai tadi pagi. Mustahil kan kenakalan semacam itu bisa ditoleransi. Terlebih terjadi di tengah acara seperti kemarin,” sanggah Akutagawa Sensei lagi.
Matanya mulai berlarian ke sembarang arah. Berkali-kali ia tenggak ludahnya sendiri untuk menurunkan ketegangan. Asal menjawab, “Kalau begitu pasti ada yang iseng di rumah saya. Saya benar-benar lelah saat tiba tadi malam dan langsung terlelap. Cih, pasti begitu. Ha ha ha,” tawanya canggung.
“Bleaching itu lama, lho. Keisengan macam apa yang memakan waktu sampai berjam-jam dan yang diisengi bisa nggak sadar? Bahkan saat kamu sedang tidur sekalipun. Kayak… gak masuk akal,” sanggah Dymas.
“Nggak harus acara bleaching segala lah, bro. Kan ada cat semprot,” jawab Aldy santai sambil mengangkat kedua tangan santai.
“Kalau memang hanya cat semprot. Saat dikeramasi harusnya mudah hilang. Keramas sana!” perintah Val sambil melempar sebuah penghapus ke kepala Aldy. Pltak.
Setelah tertawa dan melanjutkan bualannya demi mencairkan suasana. Aldy pun pergi ke kamar mandi khusus mereka dan membasuh kepalanya dengan sampo sachet yang dibeli di koperasi. Setelah itu kembali ke kelas hanya untuk menunjukkan upayanya tak menghasilkan perubahan apa pun.
Glekh. Ia tenggak ludahnya sendiri dengan wajah tertunduk menatap ujung kaki. Suasana kelas sangat dingin dan canggung. Tak bisa ia bayangkan bagaimana ekspresi dua sahabatnya dan Akutagawa Sensei saat ini.
Dadanya terus berdebar tak karuan. Bukan karena cinta apalagi bahagia.