Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #19

18: Salju

Aku gak mau drama ini sampai berubah genre jadi horor atau thriller. Aku harus memperbaiki mood sebelum masuk sekolah, tekad Angga.

Tapi, sejak tadi ia merasa orang-orang yang ia lewati sepanjang jalan menatapnya seolah sedang menonton film horor. Mulai dari pejalan kaki yang berjalan di trotoar sepertinya. Para pedagang sarapan yang berjualan nyaris di sepanjang jalan. Sampai para pengendara motor dan angkutan umum yang kebetulan lewat saja.

Ah, mereka pasti tidak sedang melihatku, pikirnya berusaha berbaik sangka. Tetap melangkah percaya diri menuju sekolah.

*

Namun, sesampainya di tempat tujuan pun respon yang ia dapat tetap sama. Semua orang menaruh perhatian padanya dengan cara tidak biasa. Sesekali melihat ke orang di dekatnya dan mulai berbisik membicarakan sesuatu.

Mereka semua sebenarnya kenapa, sih? Aku masih waras, ‘kan? Ini masih dunia normal, ‘kan? Come on!

Tanya hanya bisa terlontar dalam dada. Tak mampu ditransformasikan menjadi kata.

Padahal Angga sudah berusaha jadi Valdymas paling tidak mencolok. Valdymas yang cukup menang nilai. Valdymas yang paling anti terkena lampu sorot sosial.

Ia benci diperhatikan karena hal yang tak ia pahami.

“Angga, Angga, Angga, ssszhh!” desis Elsa dari belakang gedung guru.

“Jangan sekarang, ya,” balas Angga datar. Entah kenapa tidak selera menjawab panggilan gadis yang namanya saja memenuhi kepalanya sepanjang malam.

Tanpa memikirkan respon Aldy, Elsa langsung menarik pergelangan tangan remaja laki-laki itu ke tempat tersembunyi, “Emang kamu pikir lho aku mau ngapain? Itu rambut kamu kenapa?”

Aldy mengernyitkan alis mendengar pertanyaan tak masuk akal itu sepagi ini. “Ngomong apa, sih?”

Lihat selengkapnya