Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #21

20: Kesedihan Cinta

“Hallo,” sapa Dymas dari jembatan penyebrangan.

Elsa tak menghiraukannya dan tetap berjalan menuju sekolah. Ia tidak tahu apa yang anak itu inginkan. Yang jelas, hatinya tak akan goyah.

“Kok ada orang menyapa tidak dibalas?” tanya Dymas mengikuti di belakangnya.

“Maaf, ya. Tapi, aku kasihan saja sama kamu,” ucap gadis itu pada akhirnya.

“Oh ya? Kasihan kenapa?” tanya Dymas.

“Apa pun yang pernah kamu katakan soal Aldy ke aku. Itu sama sekali nggak akan merubah apa pun.”

“Penyebabnya?” tanya Dymas. Tetap tenang.

“Aldy sudah mengatakannya sendiri ke aku,” jawab Elsa.

“Sumpah? Aldy mengatakan soal itu sama kamu? Gila, anak itu emang nggak ada takutnya. Wajar saja, sih. Kamu kan istimewa.”

“Apa maksudmu?” tanya Elsa.

“Menurutmu apa yang akan anak biasa pikirkan kalau tau seorang Valdymas ternyata seperti itu?” tanya Dymas.

“Yah, satunya mantan pembunuh. Satunya tukang adu domba,” balas Elsa sinis.

“Baiklah, akan kuakui caraku salah. Tidak seharusnya aku gunakan cara semacam itu untuk mengalihkan perhatianmu dari dia. Mungkin aku melakukan hal itu karena iri. Atau kasihan.”

“Apa yang kamu kasihani dari orang seperti Aldy?” tanya Elsa.

“Aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Yang jelas aku bisa bilang kalau Aldy itu orang baik. Hanya saja bukan yang terbaik untukmu.”

“Stop!” Elsa menghentikan langkah di tangga menuju lantai dua. Balik badan agar utuh menatap tubuh tegap Dymas di belakangnya. “Berhenti jadikan aku tolak ukur gengsimu. Apa pun yang Aldy miliki sama sekali nggak membuatnya lebih baik darimu. Begitu juga dengan dirimu sendiri. Carilah jalanmu sendiri dan berhenti menjadikan orang lain sebagai patokan!”

Ujung bibirnya naik dengan tatapan tajam. “Maaf ya, Elsa. Aku bilang aku akan mendapatkan kamu bukan karena ingin bersaing sama Aldy,” ungkap Dymas.

“Terus karena apa?” tanya Elsa.

“Karena aku menemukan perasaan yang sama dengan Aldy dari kamu. Apa itu berlebihan? Apa itu salah? Atau tidak boleh?” Dymas mendekat selangkah. “Seperti kamu. Apa yang kamu suka dariku?” tanya Dymas.

“Aku nggak suka sama kamu.”

“Bohong. Aku tahu semua kebohonganmu sejak pertemuan pertama kita. Kamu mengagumi kalau tidak mau disebut menyukai.”

Elsa menggelengkan kepala. “Rasa kagum itu nggak ada hubungannya dengan yang terjadi sekarang. Siapa juga yang gak bakal kagum kalau lihat atlet beladiri yang ganteng, berprestasi, rajin belajar, dan sangat pintar sepertimu? Bukan berarti aku suka semua orang yang mengagumkan, ‘kan?”

Dymas menghitung jarinya. “Atlet ganteng, pintar, berprestasi, rajin belajar. Apa lagi?”

“Baik, rendah hati, disiplin, setia kawan, ramah, populer, terkadang nyebelin, tapi….”

“Bikin kangen?” tanya Dymas sambil mengerling nakal.

Elsa terpekik memegang kepala, “Aaaaakkh!”

“Jujur saja, ya. Kamu anak remaja pertama yang bisa mengutarakan penilaian padaku sedalam itu. Biasanya orang lain hanya akan melihatku dari satu dimensi: Valdymas. Pokoknya selama Valdymas itu berarti aku mengagumkan dan layak dipuji. Selama aku bagian dari Valdymas berarti layak bahkan harus terus dihormati. Padahal aku tidak menginginkan itu semua.”

Elsa menepuk dahi. “Kamu membuat pagiku yang seharusnya tawar jadi asam asin begini.”

“Akan kubuat pagi-pagimu yang selanjutnya lebih beragam rasa dan warnanya, Elsa. Aku nggak akan menyerah. Baik darimu maupun Aldy. Lihat nanti.”

Lihat selengkapnya