Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #22

21: Horikoshi

Kadang hidup berjalan seperti denting piano. Jika ditekan satu demi satu nadanya takkan jelas dan menyebalkan untuk didengar. Namun, Ketika dimainkan secara padu dari awal hingga akhir barulah kita tahu mengapa sebuah komposisi disebut mahakarya.

*

Ia melangkah keluar rumah saat langit masih gelap. Ketika banyak angkot belum beroperasi hingga ia harus berjalan sampai satu dua angkot sadar diri mengabdikan diri di jalan raya.

Ia selalu senang melihat bagaimana banyak orang memulai hari mereka. Dengan pergi ke kantor atau toko. Berangkat ke sekolah atau kampus. Memulai hidup yang kadang tidak memberi banyak pilihan.

Di satu sisi, hatinya menangis.

Apakah ia pantas menyebut dirinya manusia?

Sulur-sulur yang menariknya menuju akhir dari semua harapan terlihat semakin jelas. Ia tahu ada yang salah dengan dirinya. Sesuatu yang membuatnya berbeda dibanding orang lain. Membuatnya tak pantas menyandang gelar manusia.

“Apa kamu masih mau hidup?”

Ia lihat remaja laki-laki yang mengucapkan pertanyaan aneh itu. Bibirnya tersenyum dan menyejajarkan langkah mereka. Berjalan tepat di sisinya.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Hahaha. Seram, ya? Habis mukamu seperti orang yang ingin gantung diri. Lebih ceria, dong!” pintanya sambil mengepalkan dua telapak tangan.

“Saat sedang sendiri wajahku memang seperti ini. Capek pura-pura tersenyum terus.”

“Tapi, senyum yang kamu kasih ke aku itu bukan pura-pura, ‘kan?” tanyanya sambil menunjuk wajah.

Akhirnya bibir kering gadis itu bisa tersenyum. Entah senyuman yang bermakna apa. Ia bertanya, “Apa kamu pernah menangis?”

“Apa yang harus ditangisi? Hidupku bahagia begini,” jawab laki-laki itu. Membusungkan dada bangga.

“Wah, aku iri banget.”

Remaja laki-laki itu membalas, “Jangan sedih. Kalau kamu sedih nanti hidupku bakal nggak bahagia lagi.”

“Ah, benar juga. Aku kan harus membuat kamu bahagia.”

“Wow! Siapa yang mengharuskan?” tanyanya sok kaget.

“Seseorang yang nggak bakal kamu sangka,” jawab Elsa.

Ia memegang dagu. Mengangkat wajah. “Paling Val. Atau Dymas.”

“Kenapa langsung nebak mereka? Mereka cowok, lho. Mana mungkin meminta hal memalukan kayak gitu sama cewek.”

Angga membalas, “Sebenarnya cuma mereka orang yang aku kenal di dunia ini yang juga bersedia mengenalku.”

“Bagaimana dengan orang tuamu? Keluargamu? Teman SD? Teman SMP? Teman main di rumah?”

Kepalanya menggeleng. “Mereka hanya ingin melihatku dari sisi yang mereka inginkan. Aku tidak pernah jadi diriku saat sedang bersama mereka.”

Lihat selengkapnya