Ia tak bisa berhenti memikirkan Valdymas. Kalau mau dikhususkan mungkin Val. Val tak segan menunjukkan kelemahan di hadapannya.
Tak seperti Aldy yang naif. Atau Dymas yang manipulatif.
“Bagaimana bisa rakyat jelata seperti aku galau karena para pangeran itu? Dilihat dari sisi mana pun juga kami sangat tidak level.”
*
Keesokan paginya di sekolah.
Aldy yang selalu ceria dan penuh senyum mendadak muram. Ia tetap berusaha mengatakan hal-hal positif untuk menutupi apa yang ia rasakan sebenarnya. Namun, semua malah hanya terasa semakin palsu dan menyebalkan.
“Kamu masih marah karena hal kemarin?” tanya Elsa di tempat pembuangan sampah sekolah.
Aldy tersenyum. “Nggak, kok.”
“Kadang-kadanng Dymas memang akan menjemputku di sana. Tapi, tidak ada maksud apa pun. Aku tidak mau pertemanan kalian hancur karena salah paham,” usahanya menjelaskan.
“Aku diam bukan karena marah. Apalagi salah paham,” beritahu Aldy.
“Terus kenapa?”tanya Elsa.
“Sedang memikirkan sesuatu. Perempuan di sampingku ini sangat istimewa. Sampai bisa membuat Dymas yang gynophobia rela memangkas waktu belajar paginya.”
Elsa langsung terbelalak karena sangat terkejut. Habis, habis, habis itu terdengar tidak masuk akal. “Dymas gynophobia? Maksudnya punya ketakutan ekstrem sama perempuan?”
Aldy mengangguk. “Itu kenapa dia tidak pernah pacaran. Meski penggemarnya tiap provinsi ngantri buat dia tembak. Dia juga jadi atlet beladiri karena itu. Tidak mungkin putra berpasangan dengan putri atau melawan putri. Tidak seperti pemusik yang bisa berpasangan dengan perempuan.”
“Wow, aku kaget. Habis selama ini kayaknya dia sama sekali tidak kelihatan seperti itu.”
“Iya begitulah. Soalnya dia sangat pandai menjaga sikap dan mengontrol emosi. Aku sangat terinspirasi sama dia untuk beberapa hal. Begitu juga dengan Val. Sikapnya dewasa meski agak diktator. Tapi, aku suka gayanya yang jujur dan menyenangkan.”
“Aku senang dengar hubungan kamu dengan Valdymas lain baik-baik saja. Sebelum ada kesalahpahaman baru, akan aku katakan suatu hal.”
“Apa?”
*
“Apa? Mulai hari ini Elsa berguru piano pada Val? Kegilaan macam apa ini? Yang paling wanita butuhkan jaman sekarang itu perlindungan diri. Kamu harus belajar beladiri, Sa!” ucap Dymas emosi.
“Tidak, tidak, tidak. Yang paling orang butuhkan jaman sekarang adalah ilmu pengetahuan. Semua orang harus rajin belajar demi menjemput masa depan gemilang,” balas Aldy tak mau kalah.
“Maaf, Aldy, Dymas. Sejak dulu aku suka sekali mendengar Introduction and Rondo Capriccioso. Mendapat kesempatan belajar piano dengan orang seperti Val kalau boleh jujur benar-benar terasa seperti keajaiban,” beritahu Elsa.
Tapi, yang kamu sebut barusan itu kan komposisi biola, Jeng, batin Aldy dan Dymas.
“Kalau begini caranya aku juga bisa cemburu, lho,” desah Aldy.
“Apalagi aku! Kamu tahu, Aldy? Val itu bahkan tidak pernah mengizinkan aku menyentuh piano atau biolanya,” cerita Dymas.
Karena apa pun yang kamu sentuh pasti hancur. Dasar gorila, batin Val dan Aldy.
“Nggak adil! Nggak adil! Nggak adil! Aku juga ingin bisa main piano dan biola. Aku ingin sekali jadi pengiring Val,” gusar Dymas.
Aku tidak mau, batin Val. “Ya sudah, kami pergi dulu. Nanti kalau sudah sampai bakal aku telpon.”
“Kami bukan orang tuamu!” teriak Dymas.