Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #24

23: Takluk

Dymas dan trauma yang bersarang dalam kepalanya.

*

“Permisi. Apa kamu temannya Elsa?” tanya Aldy pada Nila.

“Iya. Ada apa, Valdymas?” jawab Nila balik tanya dengan tatapan nanar melihat cowok rupawan di hadapan.

“Hari ini kayaknya dia nggak kelihatan, ya,” ucap Aldy sambil melihat sekeliling.

Dimasukkan sarung tangannya ke kantong rok. Diajaknya Aldy menjauh dari WC perempuan.

“Elsa nggak masuk,” beritahu Nila.

“Kenapa? Izinnya apa?” tanya Aldy gusar.

“Kalau kamu mau jawab pertanyaanku… akan aku jawab,” tawar gadis itu.

Aldy menjawab, “Boleh.”

“Elsa izin pergi ke Perancis sebagai tamu resital Val,” jawab Nila.

Aldy merespon kalem, “Begitu rupanya.”

“Sebenarnya kamu ada hubungan apa sama Elsa?” tanya Nila.

“Sesama siswa bermasalah tamu ruang BK Bu Kholifah,” jawab Aldy cepat.

Ia tampak terkejut. “Hah?”

“Iya. Itu aja. Nggak lebih.”

*

Royal Study Room.

“Gimana?” tanya Dymas.

“Katanya pergi jadi tamu untuk resital Val di Perancis,” jawab Aldy.

“Bagaimana perasaan kamu sekarang saat mengetahuinya?” tanya Dymas.

“Mungkin harus aku bawa juga Elsa suatu saat nanti kalau dapat undangan ke luar negeri. Sialan orang itu. Mentang-mentang kaya,” omelnya kesal.

“Seandainya Val atau aku merebut Elsa dari kamu. Kamu akan bagaimana?” tanya Dymas.

“Aku nggak yakin bisa menghadapi kejadian kayak gitu. Tapi, semoga aku bisa melewatinya,” jawab Aldy. Tersenyum tipis.

“Kamu tidak boleh menyerah, Aldy.”

“Kamu menasihatiku begitu walau kita sekarang rival. Apa ada maksud tersembunyi di baliknya?” tanya Aldy.

“Karena… kita teman,” jawab Dymas mantap.

*

Malam hari di kamarnya.

Dymas mengamati beberapa piagam turnamen yang pernah ia ikuti. Ia tak bisa menyiapkan ruang khusus untuk memajangnya seperti Val. Ia juga “tak cukup” mengenal Aldy untuk memahaminya sedalam Val.

Hubungan mereka lebih rumit.

Sedikit eksplisit.

Dipejamkan matanya. Bayangan mengerikan masa lalu terus terulang. Masa lalu yang mengikatnya sehingga tak bisa mencapai masa depan memuaskan.

Bagaimana anak berusia tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dan dua belas tahun. Hidup dengan menanggung penderitaan di pundaknya. Sakit pukulan hanya meninggalkan jejak dan sanggup hilang. Namun, kenangan dari esensi rasa takutnya akan bertahan seumur hidup.

“AAAAAAKKKKHHHH!!!!!!!!”

Seorang ART segera berlari menuju kamar tuannya. “Mas, kamu kenapa, Mas?!”

Lihat selengkapnya