Kekayaan keluarga Val sering membawa interprestasi buruk di mata orang lain. Ayahnya, Kuncoro Pakele, memang pejabat daerah. Begitu juga ibunya yang bekerja di instansi pemerintahan.
Namun, sejak awal juga Kuncoro sudah berasal dari keluarga terpandang. Namun, keberhasilan jadi pejabat di usia muda lebih dulu menghembuskan rumor buruk. Nyogok atau korupsi jadi tuduhan yang sudah seperti makanan sehari-hari.
“Aku nggak tahan sama cibiran orang-orang. Papa kalau nggak seperti ucapan mereka dibuktikan, dong,” pinta Irfan suatu hari.
“Dibuktikan dengan apa? Walau kebenaran terpampang jelas di hadapan mereka. Orang-orang yang dasarnya sudah membenci tak akan tiba-tiba berubah pikiran. Yang bisa kita lakukan hanya tetap berdiri di jalan yang benar. Oleh karena itu Irfan harus belajar dengan baik. Buktikan pada semua orang agar kamu tak sampai bernasib seperti Papa. Hahaha. Susahnya jadi orang jujur di negara ini.”
*
Ia tatap interior ruang belajarnya. Ruangan itu memang telah mengurung, membatasi, dan memisahkannya dari dunia luar. Namun, jika mengingat percakapan itu, ia tak lagi menganggap penderitaannya berarti.
Sekalipun rumor buruk yang dihembuskan buzzer oposisi dalam pemerintahan tak pernah mereda. Ia tetap akan lakukan yang terbaik agar jadi yang terbaik.
“Kemampuanku memang tidak bisa didapat dengan uang. Tapi, kalau semua penghargaan itu dibilang hasil nyogok. Kayaknya bakal kupatahin leher mereka semua,” pikirnya membangkitkan jiwa anak punk yang bersemayam dalam dada.
“Woy, cepat, dong! Udah mau berangkat, nih,” teriak Butsainah, kakak perempuannya dari balik pintu.
“Iyo, iyo, Mbak,” sahut Val tergesa-gesa.
*
Val dan rombongannya memilih tak menggunakan pesawat. Keluarganya beranggapan, perjalanan yang terlalu singkat akan membosankan.
Itu membuat kendaraan mereka dibagi menjadi dua: mobil laki-laki dan mobil perempuan. Mobil laki-laki tiba lebih dulu karena memimpin sepanjang perjalanan.
Villa itu merupakan bangunan dua lantai bergaya klasik dengan warna cat abu-abu dan putih. Sekilas menyiratkan pemandangnya seolah sedang berada di Eropa. Arsitekturnya seperti kastil dengan tabung kerucut yang mencuat dari genteng. Ditambah perkebunan luas di sekitarnya.
Membuat suasana dingin terasa makin menggigit.
“Seperti tersasar ke abad delapan belas, ya,” komentar Dymas. Memeluk diri sendiri untuk menghangatkan diri.