Keesokan paginya Aldy bangun dengan kepala sakit luar biasa. Tidur semalaman sama sekali tak menghilangkan nyeri akibat hantaman tangan pemenang banyak turnamen beladiri itu. Kayu atau batako saja bisa dengan mudah Dymas hancurkan. Salah perhitungan sedikit kepalanya bisa pecah.
“Bikin perasaanku jadi nggak enak aja. Gimana caranya minta maaf, ya?” tanyanya gusar.
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Elsa datang sambil membawakan sebaki makanan dan susu cokelat.
“Untuk apa diantar segala?” tanya Aldy beranjak duduk.
“Kata Val tadi malam kamu terpeleset sampai pingsan. Aku khawatir,” jawab Elsa.
“Jangan khawatir. Sudah tidak sakit, kok,” balas Aldy.
Gadis itu duduk di sofa. Mengalihkan pandangan dari Aldy yang tidur di kasur yang paling dekat dengan jendela.
“Lihat apa? Serius banget,” tanya Aldy.
“Aku melihat kilas balik kejadian semalam lewat kaca jendela,” jawab Elsa.
“Elsa,” panggil Aldy. Berusaha menghentikan.
“Aku melihat semuanya, Aldy. Kamu bertengkar dengan Val dan Dymas. Setelah itu Dymas memukulmu sampai pingsan. Aku tahu semua.”
“Yahahaha, namanya juga anak anak cowok. Senggol bacok itu biasa.”
“Aku tahu ada masalah yang lebih serius dari itu. Jangan sia-siakan kami yang ingin membantumu dong, Dy.”
“Aku nggak butuh bantuan kalian,” jawabnya. Datar.
Elsa mendekati Aldy. “Kita sangat mirip, Angga. Aku tidak tahu apa yang terjadi sama kamu. Begitu juga dengan kamu. Kita bisa sampai harus berada di ruang tunggu Dokter Liana bukan tanpa alasan.”
Aldy kembali tersenyum. “Apa itu berarti kamu benar-benar ingin membunuh seseorang? Kamu mengakui bahwa jawaban yang kamu tulis hari itu sungguhan?” tanyanya.
Elsa menjawab yakin, “Tentu saja. Sejak awal juga begitu.”
“Oh ya?” responnya sambil menepuk dahi. “Aku masih belum percaya aku punya keinginan terdalam semengerikan itu. Jujur aja, ya. Cita-citaku itu jadi profiler seperti di drama Korea. Tapi… bisa kamu bayangkan? Ingin membunuh?”
Elsa membalas, “Ya, membunuh. Karena kita sudah membunuh diri kita sendiri, Angga. Tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti orang normal. Tak bisa menangis maupun menderita seperti mereka. Weirdos.”
Ia melirik Elsa dengan tatapan jahil. Bertanya, “Memang siapa yang mau kamu bunuh? Mungkin aku juga bisa menemukannya.”
Elsa menjawab, “Bahkan saat mengetahuinya itu tidak akan jadi masalah kalau untukku. Tapi, kalau untukmu itu bisa berbahaya.”
“Iyakah? Ah, baiklah. Di mana dua kunyuk itu?” tanya Aldy.