Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #28

27: Lord's Perjury

Habis Subuh hingga menjelang Dzuhur adalah waktu bermain di alam bebas. Tak ada yang boleh menyentuh benda elektronik seperti gawai atau benda itu akan dicemplungkan ke kolam ikan tanpa belas kasihan.

Dymas sendiri gagal mematuhi peraturan itu dan harus dihukum karena menggunakan gawai untuk mengirim chat di tengah permainan. Val sebagai yang mengajak Dymas sampai merajuk mati-matian pada Panggih agar tak perlu menenggelamkan gawai temannya yang pasti tidak murah.

Untung pria bertubuh macho itu bersedia menyambut rengekan si adik bungsu. Walau begitu itu membuatnya harus turut dihukum bersama Dymas: gawai disita dan dikurung di kandang ayam.

“Nggak ada yang bisa dipegang. Berdua dalem kandang begini sama cowok. Hidupku nggak bisa lebih dramatis apa? Terkurung sama Elsa gitu,” komentar Val sangat bad mood. Ia berharap andai saja hidupnya adalah sebuah cerita film atau novel. Ia harap itu adalah film atau novel cinta remaja. Bukannya… melirik Dymas… ah, sudahlah.

“Elsa perempuan yang berusaha menjaga aurat. Aku tahu otakmu itu kadang memang ngeres, tapi jangan sama dia juga!” balas Dymas.

“Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Val memotong bahasan tentang kondisi mereka saat ini. Menuju ke alasan mereka berada di sana. “Kamu sengaja melanggar peraturan. Aku datang sebagai penyelamat. Kita dihukum bareng. Semua itu karena ada yang mau kamu bicarakan, ’kan?” tanyanya. Maksudnya, konfirmasinya.

Plok plok plok. “Hmm, sungguh luar biasa. Seperti yang diharapkan dari Tuan Musikus remaja. Apa kamu sudah melanjutkan pencarian soal orang tua Aldy?” tanya Dymas.

“Sudah aku tanyakan pada Papa. Sayangnya aku tidak menemukan yang mencolok atau bisa digali. Mereka berdua hanya jaksa biasa. Membosankan,” jawab Val.

“Apa itu masuk akal untukmu? Orang tua mana pun harusnya tumpengan tiga meter setiap bulan kalau punya anak seperti Aldy. Sudah ganteng, pintar, hidupnya lurus, penurut, meski agak aneh memang,” tanya Dymas emosi.

“Aku tahu kamu penggemar Aldy. Tapi, jangan ucapkan hal menjijikkan seperti itu juga,” balas Val datar.

“Bagaimana kalau mereka berafiliasi dengan sesuatu yang lebih besar? Perusahaan pengedar narkoba. Gangster kejahatan internasional. Yakuza. Mafia Sisilia,” tanya Dymas. Terdengar mengada-ada, tapi tidak ada yang tidak mungkin terjadi.

“Aku menghargai imajinasi liarmu yang setara dengan director Marvel Cinematic Universe itu. Tapi, apa juga hubungan Aldy dengan perusahaan gelap, gangster kejahatan, Yakuza, maupun mafia Sisilia?” tanya Val tidak berselera.

“Otaknya dijual! Organ tubuh Aldy yang luar biasa itu bisa saja jadi persengketaan antar penjahat keji. Dan orang tuanya yang tidak punya hati telah…” jawabnya hiperbola. Di awal menyentak setelah itu tampak sendu.

“Aku bilang hentikan ucapan menjijikkanmu atau kujadikan saja tuts piano kali ya gigimu itu,” ancam Val emosi jiwa.

Dymas menempelkan telunjuk di bibir. Melirik kiri dan kanan. Memastikan tak ada yang mencuri dengar. “Ada satu hal yang harus kita lakukan sepulang dari sini, Val,” ucapnya separuh berbisik.

Val serius menjawab, “Apa?”

Dymas membalas, ”Seperti ini rencananya…”

Val tersenyum simpul mendengar penuturan anak di sampingnya. Ia menjawab, “Masuk akal juga.” Ia memutuskan, ”Kita tidak boleh membiarkan sesuatu lebih buruk terjadi pada mereka berdua.”

Keduanya menghabiskan waktu dalam hukuman dengan mendiskusikan rencana penyelamatan sebaik mungkin. Tanpa terasa matahari naik mengubah posisi bayangan.

“Sedang membicarakan apa kalian?” tanya Aldy yang tiba-tiba datang.

“Aku bilang aku pengen kuliah di Singapura. Tapi, si tuan muda ini bilang lebih baik di Eropa atau Amerika saja agar jauh sekalian. Agar tidak manja nanti sedikit sedikit kembali ke Indonesia. Ada apa sih dengan borju satu ini?” jawab Dymas diiringi keluhan.

“Ya memang benar, ‘kan? Kalau mau cari pengalaman yang jauh sekalian! Ke Singapura doang ngapain? Tinggal ngesot juga sampai kalau hanya ke sana, mah,” balas Val dengan raut emosi.

Aldy menutup sebelah mata dengan raut datar. “Kalian tidak bohong, ‘kan?” tanyanya. Serius.

“Kenapa harus bohong?” tanya Dymas dan Val. Berlanjut saling melihat. Dengan aksen sok polos.

Lihat selengkapnya