Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #29

28: High 5!

Jalan raya sempat senyap sejak libur akhir pekan kemarin. Tak seramai biasanya.

Di hari Selasa ini semua orang telah kembali beraktifitas. Mengakhiri mimpi pendek bernama golden week.

Bel sekolah berdering. Siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing. Hari-hari yang biasa akan kembali dimulai.

Namun, tidak begitu untuk Aldy. Ia duduk di halte depan sebuah SMK. Melepas blazer sekolah.

Duduk termenung menatap jalan layang di depannya. Berpikir keras, bagaimana caranya agar jadi gila.

“Dek, Dek, Dek! Sekolah di mana ini? Kenapa jam segini ada di luar? Bolos, ya?” serbu satpam dari sekolah yang terletak tepat di samping SMAN 1 Bangsa Sidoarjo yaitu SMKN 1 Bangsa Buduran.

“Saya bukan anak sekolah Bapak, kok,” respon Angga datar.

“Heiish, ngelawan lagi ya anak ini sedang diajak bicara. Apa kamu tidak tau soal peraturan tidak boleh berkeliaran di luar menggunakan seragam saat jam sekolah? Cepat kembali ke sekolahmu atau akan saya bawa kamu menemui guru BK sekolah ini,” ancam Pak Satpam.

Angga pun bangkit dan melangkah menuju gerbang SMAN 1 Bangsa Sidoarjo. Gerbang yang dikunci saat bel berbunyi sudah kembali dibuka. Satpam sekolah menghiraukan keberadaannya.

*

Royal Study Room.

Oh my God, Aldy. 今日は遅すぎます。なぜあなたはそんなに規律がないのですか?(Oh demi Tuhan, Aldy. Telatmu hari ini keterlaluan sekali. Mengapa kamu sangat tidak disiplin?)” tanya Akutagawa Sensei.

ごめんなさい、先生 (Saya minta maaf, Sensei),” jawab Aldy menundukkan wajah.

“Yang telat harus dihukum, dong,” pinta Val tiba-tiba.

“それは明らかです。遅い時間は罰せられません。 CCクラスの子供だけが服を脱いでフィールドを一周するように求められます (Sudah jelas itu. Masa terlambat tidak dihukum. Anak dari kelas CC (Common Class: kelas anak biasa) saja diminta mengelilingi lapangan sambil melepas pakaian),” tambah Dymas ikut-ikutan.

“あなたは通常何をするように頼まれますか? (Biasanya kalian akan diminta melakukan apa?)” tanya Akutagawa Sensei seraya menaruh dagu di atas punggung jemari.

“Tidak boleh ikut kelas pagi!” jawab Val dan Dymas serempak.

Aldy membangkitkan tubuh dengan raut jengah. “Ya, ya, ya, aku akan pergi,” ucapnya berjalan ke arah pintu.

Selepas anak itu pergi, Akutagawa Sensei terkikik geli. Tidak paham mengapa para anak didiknya bisa jadi begitu kejam pada teman sekelas mereka sendiri.

“休暇中に何かが起こったようです。教えてもらえますか?(Sepertinya sesuatu telah terjadi pada kalian ya selama liburan. Keberatan jika menceritakan?)” tanya Akutagawa Sensei.

“Aldy sudah melewati batas untuk suatu hal. Dia harus diberi pelajaran,” jawab Val yakin.

“Kalian bertiga sangat cerdas. Saya juga yakin kalian telah dewasa dan mampu memisahkan mana yang baik juga mana yang salah. Karena itu… lakukanlah sesuka kalian,” respon Akutagawa Sensei.

Dymas maupun Val hanya terdiam. Bukan berarti tak ada yang ingin mereka utarakan. Hanya saja untuk saat ini semua masih begitu ambigu.

Terutama untuk Dymas.

” さて、レッスンを再開しましょう!(Nah, mari kita mulai lagi pelajarannya!)”

*

Royal Canteen.

Aldy duduk di meja lingkaran dengan tiga kursi. Ia tak melakukan apa pun. Seolah hanyut dalam ketenangan pikiran.

“Bu, saya minta pecel dan es cao,” pesan Val, “Esnya sedikit saja. Tolong dibanyakin caonya.”

Lihat selengkapnya