Pada saat Royal Breaktime. Ketiga anggota Valdymas tetap berada di dalam kelas. Tak ada yang berminat pergi ke kantin.
Aldy bertelanjang dada duduk di kursi. Val dan Dymas sok-sokan berlagak jadi dokter dan perawat.
Dgub dgub dgub. Jantung Angga berdebar tidak jelas. Banyak pertanyaan muncul, namun tak kuasa dilontarkan.
“Bekas luka kamu kelihatannya semakin banyak saja, ya. Rata-rata masih pada baru lagi. Kamu sebenarnya diapain sih sama mereka? Kok bisa-bisanya diperlakukan seperti ini hanya diam saja. Kamu itu masih punya otak kan, Anggabaya Reagan Slaine?” tanya Val gemas. Menatap kulit kuning langsat Aldy yang terlihat “tidak benar” di sana-sini.
Aldy hanya diam saja. Ia tidak tau apa yang harus dikatakan saat semua terasa serba salah.
Ia belum miliki keberanian lontarkan raungan ketidakpuasan. Semua serba terbatas dan penuh tekanan.
“Tolong kotak jahit dan potongin perban,” pinta Val pada Dymas.
“Eh, be, bentar, deh! Mau ngapain kalian?” tanya Aldy auto panik melihat Val mengeluarkan pinset anatomi, jarum, benang, alkohol, obat anastesi, dan gunting verbant dari kotak P3K.
Ia langsung membatin, kotak P3K macam apa juga yang ada di kelas kita sampai menyimpan barang-barang seperti itu di dalamnya? OMG!
“Mau menjahit lukamu,” jawab Val enteng. Mengenakan sarung tangan karet. Berlagak seolah dokter bedah ahli seperti yang sering ia lihat di drama Korea atau semacamnya.
“Aldy belum tahu, ya? Val itu dokter kecil saat masih SD. Masuk ke keanggotaan PMR di SMP. Dan pernah menjuarai beberapa kompetisi pertolongan pertama bergengsi yang diadakan PMI Nasional di Jakarta,” beritahu Dymas fasih. Seperti Mbah Google yang telah merangkum seluruh informasi soal remaja bernama Irfan Hakan Pakele.
“Sejak kapan menjahit luka masuk golongan pertolongan pertama, HAH?! Itu tugas ahli medis profesional!” tanya Aldy. Terpekik tak percaya.
“Jahitannya mau model apa?” tanya Val. Menaikkan masker yang membuatnya semakin mengerikan. “Simple Interupted Suture (Satu-satu), Running Locked Suture (Feston), Subcuticuler Continuous Suture (Subkutis), Running Suture (Jelujur), atau Mattress Suture (Vertikal/Horizontal)?” tanya Val serius.
Aldy memberontak. Mereka pikir kulitnya apa? Bekas luka hasil “dicium” manja oleh bogem mentah dan “dibelai” lembut oleh gesper begitu saja tak perlu pakai acara pakai jahitan segala.
Namun, belum sempat ia melarikan diri. Dengan sigap Dymas mengunci kedua pergelangan tangan anak itu di punggung.
“Aku mohon, Dym, Val, aku beneran nggak apa-apa. Nggak harus pakai dijahit segala, ‘kan? Kumohon!” pinta Aldy dengan wajah merengek ketakutan.