Kemisteriusan seorang Dymas berakhir tanpa jawaban seperti acara settingan reality show.
Elsa tenggelam dalam aktivitas belajar barunya yang Spartan. Val, Aldy, maupun Dymas dalam Valdymas tenggelam dalam proses belajar mereka sendiri. Ditambah kebut-kebutan yang semakin sering dilakukan untuk beri sedikit kelegaan.
*
RSUD Kabupaten Sidoarjo.
“Apa kamu masih sering kebut-kebutan pakai motor Val?” tanya Elsa.
Aldy tersenyum. Dengan percaya diri menjawab, “Tentu saja.”
“Sepertinya Val terlalu memanjakan kamu, ya,” komentar Elsa.
“Apa ada yang salah dengan itu? Namanya juga kami kan teman,” respon Aldy.
“Aku hanya ingin menjalani hidup normal. Cerita sekolah normal. Mendapat nilai normal. Cerita percintaan normal. Pertemanan yang normal. Semua aku harap akan jadi biasa saja,” ucap Elsa.
”Lalu?” tanya Aldy.
Elsa berkata lagi, ”Jangan suka kebut-kebutan. Jangan suka membahayakan diri sendiri dan orang lain.”
Aldy tak menjawab, ”…”
Elsa berkata lagi, ”Kamu tau? Aku pernah melihat video yang tersebar di grup WA. Tentang seseorang yang kebut-kebutan hingga akhirnya tertabrak truk besar. Kendaraan dan tubuhnya terpental. Walau sudah menggunakan helm ia tetap tidak selamat.”
”Apa batok kepalanya tetap baik-baik saja?” tanya Angga. Tidak tau menanggapi cerita itu dengan serius atau tidak.
”Kepalanya copot,” jawab Elsa datar.
Angga memegang dagu dan berdehem pelan. Merespon, “Cerita yang cukup menggugah, tapi hal seperti itu nggak akan pernah terwujud.”
“Apa maksudmu?” tanya Elsa. Balik bertanya.
“Karena ada weirdos yang sangat menyukaimu di sini. Akan aku buat kamu terus berada di sampingku. Sampai membuatmu yakin bahwa segala keanehan merupakan hal normal,” jawab Aldy.
Elsa tersenyum kecil. “Angga, aku hanya ingin kamu jujur. Jangan sembunyikan masalahmu. Ada Val dan Dymas. Bahkan aku yang ingin bantu.”
“Sudahlah, Elsa. Perhatian kalian justru buat aku sesak nafas.”
*
Ruangan dr. Liana Nurhayati, Sp.KJ.
“Pertemuan selanjutnya kalian bawa orang tua, ya,” pinta wanita paruh baya itu.
“Saya tidak punya,” jawab Elsa dan Aldy bersamaan.
Keduanya saling melihat dan tertawa menyadari betapa miripnya mereka.
“Pengobatan ini harus dengan dampingan orang tua, lho. Kalian lihat pasien lain. Semua datang dengan pendamping. Kalau tidak ada orang tua, siapa yang bertanggung jawab?” tanya Dokter Liana dengan tatapan khawatir.
“Saya bisa bertanggung jawab sama diri saya sendiri, kok,” tegas Aldy.
“Bukan itu masalahnya di sini, Angga, Elsa,” respon Drokter Liana.
“Memang kami kenapa, Dok? Sampai butuh minum obat segala,” tanya Aldy.
“Pokoknya itu pekerjaan rumah dari saya. Pertemuan selanjutnya kalian harus datang ke sini dengan orang tua,” jawab Dokter Liana tegas.