Apple Polisher (Pemoles Apel)

Arslan Cealach
Chapter #35

34: Dia, Berubah

Dua hari menuju Brahms Violin Concerto by Irfan Hakan Pakele.

*

Royal Study Room.

“Waahh, tinggal menghitung jam menuju penampilan spektakular Solis Irfan Hakan Pakele. Keren, deh. Jadi semakin nggak sabar pengen cepet nonton,” girang Dymas.

“Kamu sudah beli tiketnya?” tanya Val.

Dymas mendadak diam. “Demi apa aku harus beli tiket untuk datang ke resitalmu?” tanyanya tak percaya.

“Sayangnya jatahmu sudah aku beri untuk Elsa, Dym. Di tribun VIP. Kamu beli sendiri, ya. Mungkin masih sisa buat bangku paling belakang,” respon Irfan datar.

Tatapan ramah Dymas menjadi tajam. “Oh, ngono yo… (Oh, begitu, ya…)”

“Aha ha ha ha, guyon (bercanda). Nih, tiketnya,” ujar Val menyodorkan sebuah amplop berwarna merah cerah dengan tinta berwarna emas. Terlihat sangat elegan sudah seperti undangan pesta untuk para bangsawan.

“Muka Aldy kenapa kayak kena ayan gitu? Kambuh?” tanya Elsa.

“Aku deg-degan. Rasanya mau muntah,” jawab Aldy.

“Hari ini kami berdua pulang cepat,” beritahu Val, “Ada pertemuan dengan sponsor. Kelihatannya sponsorku penggemarku. Dia penasaran sama pengiring baru yang aku pilih,” beritahu Val.

Ayan Aldy seketika jadi semakin menjadi, “HOEEEK!!!”

Dymas menepuk-nepuk punggung Aldy yang mudah demam panggung. “Tabah, Dy, tabahlah!” Berusaha menenangkan.

“Mungkin nanti Aldy akan disuruh memainkan Rachmaninoff sebagai permbuktian,” goda Val lagi.

Demam panggungnya alam sekejap semakin parah, “HOOOEEEKK!!!”

“Kamu demam panggung karena nggak bisa atau karena malu? Kalau nggak bisa bilang aja. Kalau malu, jangan malu. Masa orang seberbakat kamu pemalu. Rasanya nggak cocok,” nasihat Elsa yang sendirinya sama sekali tidak memiliki bakat mencolok.

Kecuali makan, tidur, dan bernafas mungkin.

Kalau boleh jujur Aldy menguasai Beethoven, Bach, Rachmaninoff, Mozart, Wagner, Schumann, Schubert, Chopin, Liszt, Brahms, Verdi, Tchaikovsky, Mahler, Handel, Haydn, dan yang lain.

Seluruh komposisi itu bagai sudah ngelontok dalam kepala, tapi rasa takut dan khawatir tetap tak bisa dibendung. Rasa takut yang entah apa. Kecemasan tak beralasan. Bagai tombak terbuat dari asap hitam. Terus mengejar walau tak bisa menyakiti.

Dan ia tetap saja berlari.

Dymas melihat kondisi Aldy yang mengkhawatirkan.

Hmm. Ia bertanya, “Apa aku boleh ikut?”

“Ikut ke mana?” tanya Val.

“Pertemuan dengan sponsor atau siapalah itu-mu,” jawab Dymas.

“Sepulang sekolah Elsa dan Dymas harus fiting baju, lho. Sudah aku pesankan. Nanti kuberi alamat butiknya. Pokoknya hari ini kita semua sibuk,” jawab Val.

Yes, my Lord,” jawab Dymas dan Elsa.

Sementara Aldy hanya diam saja. Masih berkeras untuk coba menenangkan perasaan.

Membuat beragam kemungkinan dalam pikiran. Apakah hal buruk yang kiranya bisa terjadi di momen semembahagiakan ini?

“Aku ingin tenang… Aku ingin merasa baik-baik saja… Aku tidak apa-apa… Ya Allah, tolong selamatkan hamba…”

“Dy,” panggil Val khawatir.

“Aku bisa gila karena firasat tidak enak ini.”

Lihat selengkapnya